Thursday, 25 June 2020

Gambaran Umum Pohon Jabon

Materi

Pohon Jabon (Anthocephalus chinensis) merupakan tumbuhan berkayu yang memiliki  tinggi mencapai 45 m dengan panjang batang bebas cabang 30 cm dan diameter sampai 160 cm. Pohon ini juga memilik batang lurus dan slindiris, bertanjuk tinggi dengan cabang mendatar, berbanir sampai ketinggian 1,50 m, dan memiliki kulit luar berwarna kelabu-coklat sampai coklat.

Pohon ini tersebar diberbagai wilayah Indonesia, diantaranya, seluruh Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, seluruh Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Irian Jaya.

Pohon ini juga memiliki ciri-ciri, sebagai berikut :

  1. Pohon meiliki kayu teras dengan warna putih semu-semu kuning muda dan kayu gubalnya tidak dapat dibedakan dari kayu terasnya.
  2. Tekstur kayunya agak halus sampai agak kasar.
  3. Arah seratnya lurus.
  4. Pohon ini memiliki  permukaan kayu licin dan mengkilap.

Kayu jabon termasuk kayu yang mudah dikeringkan dengan sedikit cacat berupa pecah dan retak ujung serta sedikit mencekung. Pohon ini mudah diserang oleh jamur biru, maka kayu jabon memelurkan tindakan pengeringan secara cepat didaerah terbuka. Pengeringan papan jabon dengan ketebal 2,5 cm dari kadar air 82% sampai kadar air 14% memerlukan waktu 38 hari.

Pohon jabon umumnya tumbuh pada tanah aluvial lembab di pinggir sungai dan di daerah peralihan antara tanah rawa dan tanah kering yang kadang-kadang digenangi air serta pohon ini tumbuh dengan baik pada tanah liat, tanah lempung, podlisik coklat, tanah tuf halus atau tanah lempung berbatu yang tidak sarang. Dalam melakukan permudaan alam pohon ini banyak sekali terdapat pada tempat-tempat terbuka seperti bekas tabang, bekas jalan atau bekas perladangan. Pohon jabon termasuk pada kategori jenis pionir yang membentuk kelompok hutan alam murni pada tempat yang bebas cahaya.

Pertumbuhan pohon jabon dikategori pertumbuhan cepat, sehingga pada umur 3 tahun harus dilakukan penjarangan pertama dan pada umur 25 tahun sudah dapat menghasilkan kayu pertukangan yang dibutuhkan.

Buah pohon jabon pada setiap tahun pada bulan Juni-Agustus terjadi pembentukan buah jabon dengan bentuk buah bulat dan lunak yang mengandung biji yang sangat kecil.

Tanaman muda pohon jabon dapat dimakan binatang liar seperti rusa dan banteng. Dan juga serangga dan jamur Gloeosporium anthocephali dapat menyerang daun jabon sehingga menyebabkan defoliasi dan mati pucuk.

Kayu jabon dapat digunakan sebagai korek  api, cetakan beton, mainan anak-anak, pulp, dan konstruksi darurat.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekstraksi

Materi

Minyak atsiri merupakan minyak aromatik khas tanaman penghasilnya yang diperoleh melalui beberapa teknik, salah satunya ekstraksi. Ekstraksi ini merupakan suatu teknik yang bertujuan untuk memisahkan zat berkhasiat yang terkandung dalam jaringan tumbuhan dari komponen inaktif atau inert menggunakan seletif. Sedangkan ekstrak merupakan suatu sediaan pekat yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dari simplisa menggunakan pelarut yang sesuai.

Dalam menentukan kualitas minyak atsiri dipengaruhi oleh teknik ekstraksi yang dilakukan. Sehingga ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas minyak atsiri berdasarkan teknik ekstraksi, yaitu : Perlakuan pendahuluan, temperatur, pengadukan, dan pemilihan pelarut (Chandra, 2015).

1. Perlakuan Pendahuluan

Perlakuan penahuluan merupakan faktor yang berpengaruhi rendemen dan mutu ekstrak yang dihasilkan. Faktor ini meliputi pengecilan ukuran dan pengeringan bahan. Semakin kecil ukuran partikel bahan, maka semakin besar luas kontak antara padatan dengan pelarut, tahanan menjadi semakin berkurang dan lintasan kapiler dalam padatan menjadi semakin pendek (laju difusi berbanding lurus dengan luas permukaan padatan dan berbanding terbalik dengan keteabalan padatan). Berdasarkan hal tersebut maka proses ekstraksi menjadi lebih cepat dan optimal.

Untuk mengecil ukuran partikel bahan baku dapat dilakukan dengan teknik pemotongan, pengglingan, maupun penghancuran bahan.

Adapun perlakuan terlebih dahulu dilakukan pengeringan bahan yang bertujuan untuk terjadinya penguapan sebagian air dalam bahan baku, sehingga kadar air bahan menurun. Dan juga bertujuan untuk mempermudah pengeluaran solute dalam bahan, mempermudah proses pengecilan ukuran dan meningkatkan mutu ekstrak dengan menghindari adanya air dalam ekstrak.

2. Temperatur

Faktor yang mempengaruhi kualitas minyak atsiri berdasarkan suhu yang digunakan. Apabila suhu yang digunakan berlebihan atau tidak cocok dengan daya tahan bahan baku akan menghancurkan senyawa minyak tanaman tersebut.

Kelarutan bahan yang diektraksi dan difusivitas akan meningkat dengan meningkatnya temperatur. Namun temperatur yang terlalu tinggi dapat merusak bahan yang diekstrak, sehingga perlu menentukan temperatur optimum.

3. Faktor Pengadukan

Faktor ini dapat mempercepat pelarutan dan meningkatkan laju difusi solute. Pergerakan pelarut di sekitar bahan baku akibat pengadukan dapat mempercepat kontak bahan dengan pelarut dan memindahkan komponen dari permukaan bahan ke dalam larutan dengan jalan membentuk suspensi serta melarutkan komponen ke dalam media pelarut.

Pengadukan dalam dilakukan dengan teknik mekanis, pengaliran udara atau kombinasi keduanya.

4. Pemilihan Pelarut

Faktor ini mempengaruhi proses ekstraksi dengan jenis komponen aktif bahan yang terektrak karena masing-masing pelarut mempunyai selektifitas yang berbeda untuk melarutkan komponen aktif dalam bahan. Berbagai syarat pelarut yang digunakan untuk proses ekstraksi yaitu memiliki daya larut dan selektifitas terhadap solute yang tinggi.

Pelarut harus mampu melarutkan komponen yang diinginkan sebanyak mungkin dan sesedikit mungkin melarutkan bahan pengotor. Pelarut bersifat inert terhadap bahan baku, sehingga tidak beraksi dengan komponen yang akan diekstrak

Ciri-ciri pelarut yang diinginkan

  1. Reaktivitas pelarut tidak menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen bahan ekstraksi.
  2. Tidak menyebabkan terbentuknya emulsi, korosif, tidak beracun, tidak mudah terbakar.
  3. Stabil secara kimia dan termal dan tidak berbahaya bagi lingkungan.
  4. Memiliki viskositas yang rendah, sehingga mudah untuk dialirkan.
  5. Memiliki titik didih yang cukup rendah agar mudah diuapkan.
  6. Memiliki tegangan permukaan yang cukup rendah.
  7. Setiap komponen pembentuk bahan mempunyai perbedaan kelarutan yang berbeda dalam setiap pelarut, sehingga untuk mendapatkan sebanyak mungkin komponen yang diinginkan.
  8. Murah dan mudah didapat, serta tersedia dalam jumlah yang banyak.

Sumber :

Chandra, A. 2015. Studi Awal Ekstraksi Batch Daun Stevia Rebaudiana dengan Variabel Jenis Pelarut dan Temperatur Ektraksi. PROS SEM NAS MASY BIODIV INDOV.

Wednesday, 24 June 2020

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Briket Arang

HHBK

Briket arang merupakan arang yang diperoleh dengan proses lebih lanjut menjadi bentuk briket (oval, kotak, dan penampilan lain yang menarik) yang dapat digunakan untuk keperluan energi sehari-hari dengan ukuran dan kerapatannya menjadi produk yang lebih praktis dalam penggunaannya sebagai bahan bakar.

Adapun faktor yang mempengaruhi kualitas briket arang adalah sebagai berikut :

Kerapatan

Kerapatan mempengaruhi briket arang yaitu apabila semakin besar kerapatan maka volume atau ruang yang diperlukan lebih kecil untuk massa yang sama. Besar atau kecilnya nilai kerapatan dipengaruhi oleh kehomongenan bahan dan ukuran bahan pembuat briket arang. Sehingga kerapatan yang besar akan menyebabkan pembakaran lebih lama daripada briket kerapatan kecil.

Sidiq (2017) menyatakan bahwa komposisi sangat berpengaruh nyata terhadap kerapatan briket arang. Semakin banyak penambahan kayu ulin yang ditambahkan pada briket arang perekat tapioka atau molasses, maka nilai kerapatan berpengaruh nyata terhadap briket arang.

Keteguhan Tekan

Faktor ini merupakan kemampuan briket untuk memberikan daya tahan atau kekompakan briket terhadap pecah atau hancurnya briket jika diberikan beban pada benda tersebut (Wijayanti, 2009). Semakin besar nilai keteguhan tekan maka daya tahan briket terhadap pecah semakin baik, daya tahan keteguhan tekan berfungsi untuk mengetahui daya tahan briket saat pengangkutan dan pengemasan.

Sidiq (2017) menyatakan bahwa komposisi dan jenis perekat menunjukkan pengaruh yang sangat nyata terhadap briket arang yang dihasilkan. Bahan baku dengan kerapatan tinggi akan menghasilkan briket dengan nilai ketenguhan tekan yang tinggi. Setiap bahan baku memiliki nilai kerapatan yang berbeda-beda sehingga mengakibatkan nilai keteguhan tekan yang berbeda-beda untuk setiap jenis bahan baku briket arang (Hendra, 2007).

Kadar Air

Kadar air merupakan faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai kalor yang dimiliki briket arang itu sendiri. Dimana tinggi kadar air akan menyebabkan penurunan nilai kalor pada briket arang. Hal ini dapat terjadi akibat adanya panas yang tersimpan dalam briket terlebih dahulu digunakan untuk mengeluarkan air yang ada sebelum kemudian menghasilkan panas yang dipergunakan sebagai panas pembakaran (Hendra, 2010).

Sidiq (2017) menyatakan bahwa komposisi dan jenis perekat sangat berpengaruh nyata terhadap nilai kadar air yang dihasilkan. Briket arang penambahan tapioka dengan bertambahnya ulin, nilai kadar air cenderung menurun. Sehingga nilai rata-rata kadar air briket dengan penambahan tapioka lebih tinggi dibandingkan dengan briket penambahan molasses.

Kadar Zat Terbang

Kadar zat terbang merupakan faktor yang hasil dikomposisi zat-zat penyusun arang akibat proses pemanasan selama pengarangan dan bukan komponen penyusun arang. Briket arang yang kadar zat menguap yang tinggi akan menghasilkan asap pembakaran yang tinggi pula (Fauziah 2009).

Sidiq (2017) menyatakan bahwa semakin bertambahnya ulin pada briket arang penambahan tapioka ataupun molasses trenya semakin meningkat. Perekat molasses menghasilkan nilai kadar zat terbang lebih rendah daripada briket arang perekat tapioka. Tinggi rendahnya kadar zat menguap briket arang yang dihasilkan dipengaruhi oleh jenis bahan baku, sehingga perbedaan jenis bahan baku berpengaruh nyata terhadap kadar zat menguap briket arang (Pane et.al, 2015).

Kadar Abu

Kadar abu merupakan faktor yang berasal dari bagian sisa proses pembakaran yang memiliki penyusun unsur silika. Semakin tinggi kandungan silika maka semakin tinggi pula kadar abu yang dihasilkan. Nilai kadar abu yang tinggi menghasilkan emisi debu yang menyebabkan polusi udara dan mempengaruhi volume pembakarannya.

Sidiq (2017) menyatakan bahwa jenis perekat tidak berpengaruh terhadap nilai kalor abu, unntuk komposisi menunjukkan pengaruh yang sangat nyata. Adanya penambahan kayu ulin menghasilkan nilai kadar abu yang menurun khususnya pada briket arang penambahan molasses. Jenis bahan baku sangat berpengaruh tehadap tinggi rendahnya kadar abu briket arang yang dihasilkan. Hal ini terjadi akibat adanya komposisi kimia dan jumlah mineral yang berbeda-beda sehinngga mengakibatkan kadar abu briket arang yang dihasilkan berbeda pula.

Kadar Karbon Terikat

Kadar karbon terikat merupakan faktor yang terjadi akibat fraksi karbon yang  terikat di dalam arang selain fraksi air, zat menguap dan abu (Wijayanti, 2009). Briket arang yang bermutu baik adalah memiliki nilai  kalor dan kadar karbon terikat yang tinggi namun kadar abu rendah. Menurut Sidiq (2017) menyatakan bahwa jenis perekat dan komposisi berpengaruh sangat nyata terhadap nilai kadar karbon terikat. Penambahan kayu ulin baik perekat tapioka dan molasses memiliki nilai rata-rata karbon terikat cenderung menurun.

Nilai Kalor

Nilai kalor merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kualitas briket arang. Semakin tinggi nilai kalor briket arang maka semakin baik pula kualitas briket aran yang dihasilkan. Nilai kalor diperoleh berasarkan pengukuran pada volume tetap, dimana arang yang dibakar akan menaikkan suhu air sehingga nilai kalor arang dapat diukur berdasarkan perbedaan suhu air (Triono, 2006). Menurut Sidiq (2017) menyatakan bahwa jenis perekat dan komposisi mempunyai pengaruh yang sangat nyata terhadap nilai kalor yang dihasilkan. Penambahan kayu ulin baik perekat tapioka dan molasses memiliki nilai kalor cenderung menurun. Setiap bahan baku memiliki nilai karbon terikat yang berbeda-beda, sehingga mengakibatkan nilai kalor bakar yang berbeda-beda pula untuk setiap jenis bahan baku briket arang.

Kesimpulan

Kesimpulan makalah ini adalah bahwa karekteristik briket arang dari komposisi tempurung kelapa dan kayu ulin berpengaruh terhadap kerapatan, kadar air, kadar zat terbang, kadar abu, kadar karbon terikat dan nilai kalor, namun tidak berpengaruh terhadap keteguhan tekan.

DAFTAR PUSTAKA

Fauziah, N. 2009. Pembuatan Arang Aktif secara Langsung dari Kulit Akasia (Acacia mangium) dengan Aktivitas Fisika dan Aplikasinya sebagai Adsorben. Skripsi. IPB.  Bogor.

Hendra, D. 2007. Pembuatan Briket Arang dari Campuran Kayu, Bambu, Sabut Kelapa dan Tempurung Kelapa sebagai Sumber Energi Alternatif. Jurnal Hasil Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan. Bogor.

Hendra, D. 2010. Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) untuk Bahan Baku Briket sebagai Bahan Bakar Alternatif. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan. Bogor.

Pane, et.al. 2015. Pengaruh Konsentrasi Perekat Tepung Tapioka dan Penambahan Kapur dalam Pembuatan Briket Arang Berbahan Baku Pelepah Aren. USU. Medan.

Sidiq, M. H. 2017. Karekteristik Briket Arang dari Tempurung Kelapa (Cocos nucifera) dan Ulin (Eusideroxylon zwageri). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Triono, A. 2006. Karakteristik Briket Arang dari Campuran Serbuk Gergajian Kayu Afrika (Maesopsis Eminii Engl) dan Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) dengan Penambahan Tempurung Kelapa (Cocos nucifera L.). Skripsi. IPB. Bogor.

Wijayanti, D. S. 2009. Karekteristik Briket Arang dari Serbuk Gergaji dengan Penambahan Arang Cangkang Kelapa Sawit. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Turunnya Kemampuan Produksi Hutan Akibat Kebakaran

Kebakaran hutan merupakan suatu sumber kerusakan yang biasa terjadi pada hutan produksi. Kebakaran hutan memberikan dampak negatif yang banyak daripada dampak positifnya..

Dampak negatif akibat kebakaran hutan yaitu terjadinya kerusakan pohon-pohon yang bernilai penting, kerusakan pada pertumbuhan tanaman muda termasuk bibit permudaan, kerusakan pada tanah, menurunkan kemampuan produksi hutan, kerugian karena rusaknya nilai rekreasi hutan, merusak makanan ternak, kebakaran dapat mengurangi fungsi lindung daripada hutan, merusak fungsi lain daripada hutan, dan merusak lingkungan hidup manusia.

Kita akan membahas bersama-sama pada bagian menurunkan kemampuan produksi hutan.

Produksi hutan yang mengalami penurunan menyebabkan berbagai hal, diantaranya yaitu kerusakan karena penggantian jenis-jenis vegetasi yang berharga oleh jenis-jenis vegetasi yang kurang berharga, kerugian karena berkurangnya tegakan pohon, dan kerugian karena penebangan terpaksa yang dilakukan sebelum pohon-pohon masa tebang.

Kerusakan karena penggantian jenis-jenis vegetasi yang berharga oleh jenis-jenis vegetasi yang kurang berharga

Akibat kebakaran hutan menyebabkan perubahan komposisi vegetasi dari suatu tegakan hutan. Keanekaragaman jenis pohon berharga yang lebih peka terhadap kebakaran dibandingkan dengan jenis kurang berharga.

Dimana hal ini memungkinkan terjadi bahwa semua jenis-jenis pohon yang sensitif terhadap api akan habis terbakar sedangkan yang kurang sensitif akan tetap bertahan sehingga seluruh areal tegakan hanya didominasi oleh jenis-jenis pohon resisten yang kurang berharga.

Kerugian karena berkurangnya tegakan pohon

Banyaknya peristiwa kebakaran yang sudah usai, sangat sulit didapatkan anakan baru dalam tegakan hutan. Dimana kebakaran mengubah kerapatan tajuk pohon mengurangi jumlah vegatasi yang ada dibawah pohon. Sehingga mengurangi kerapatan tegakan yang sangat diperlukan untuk produksi kuantitas dan kualitas pohon maksimum.

Kerugian karena penebangan terpaksa yang dilakukan sebelum pohon-pohon masa tebang

Ketika pohon ditebang sebelum mencapai daur periodik kayu mempengaruhi kualitas dan kuantitas yang rendah. Kebakaran  yang berlebihan mampu memberikan dampak negatif dalam hal melakukan tebangan tegakan pohon secara terpaksa.

Sumber :

Sila, M. dan Nuraeni, S. 2009. Buku Ajar Perlindungan dan Pengamanan Hutan. Universitas Hasanuddin. Makassar

Gambaran Umum Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)

Materi

Untuk mengatur sistem hutan yang bagus memerlukan pengelolaan DAS yang tepat. DAS ini merupakan bagian wilayah hutan atau lahan yang kesatuan ekosistem dibatasi oleh pemisah topografis dan berfungsi sebagai pengumpul, penyimpan dan penyalur air, sedimen, unsur hara melalui sistem sungai (Naharuddin, 2018)

DAS ini juga sistem keluarnya melalui outlet tunggal yaitu ke danau/laut. Dan ketika turun hujan di daerah itu, maka air hujan akan mengalir ke sungai-sungai yang ada disekitar daerah yang dituruni hujan.

DAS dalam skala kecil disebut dengan Catchment Area yang merupakan bagian wilayah dibatasi oleh penggung bukit atau batas-batas pemisah topografi. Hal ini berfungsi sebagai penerima, penyimpan dan mengalirkan curah hujan ke alur-alur sungai dan terus mengalir ke anak sungai dan ke sungai utama, yang akhirnya berujung pada waduk, danau, dan laut.

DAS dapat dipisah dengan DAS lainnya melalui alam topografi, seperti gunung dan bukit. DAS ini memiliki Sub DAS yang merupakan bagian DAS menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama. Kemudian ada juga sub-sub DAS yang merupakan bagian wilayah kesatuan ekosistem yang terbentuk secara alamiah, dimana air hujan mengalir melalui ranting aliran sungai dengan membentuk bagain dari Sub DAS.

Di DAS terdapat daerah tangkapan air yang merupakan bagian kawasan berfungsi sebagai daerah penadah air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sumber air di wilayah tersebut melalui kawasan di hulu danau yang memasok air ke danau.

Untuk pengelolaan DAS merupakan suatu proses perumusan dan pelaksanaan serangkaian tindakan yang melibatkan manipulasi dan sistem alam suatu DAS untuk mencapai tujuan pembangunan yang lestari.

Pengelolaan DAS ini berada di berbagai jenis hutan dan lahan, yaitu kawasan lindung, kawasan budidaya tanaman semusim, kawasan penyangga, kawasan kota dan industri, serta kawasan pemukiman.

Tujuan pengelolaan DAS terhadap suatu wilayah adalah menjadikan wilayah DAS yang utuh sebagai satu kesatuan ekosistem yang membentang dari hulu ke hilir.

Ketika terjadinya eksplotasi tanah dan air yang menunjukkan adanya permintaan kesetimbangan yang sangat mustahil dengan populasi manusia yang terus meningkat. Dimana konservasi tanah ini merupakan bagian perlindungan tanah terhadap kehilangan fisik oleh erosi terhadap perusakan kimia.

Berdasarkan hal yang diatas, maka terdapat upaya-upaya dalam pengelolaan DAS, yaitu :

  1. Menerapkan pengelolaan ruang melalui usaha pengaturan lahan dan konservasi tanah secara luas.
  2. Membentuk pengelolaan sumberdaya air melalui konservasi, pengembangan, pengendalian, dan penggunaan daya rusak air.
  3. Menerapkan pengelolaan vegatasi melalui pengelolaan hutan dan jenis vegetasi darat yang memiliki fungsi produksi dan perlindungan terhadap tanah dan air.
  4. Melakukan pembinaan kesadaran dan kemampuan manusia termasuk pengembangan kapasitas kelembagaan dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana.

Sumber :

Naharuddin, dkk. 2018. Buku Ajar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Aplikasinya dalam Proses Belajar mengajar. Untad Press. Palu

Tuesday, 23 June 2020

Makalah Tanaman Bajakah

HHBK

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hutan hujan tropis memilki keanekaragaman yang tinggi sekitar 40.000 spesies tumbuhan yang tersebar yang menunjukkan berbagai variasi dalam bentuk, struktur tubuh, jumlah, dan sifat lainnya. Tumbuhan merupakan bagian sumber alam hayati dari rantai tatanan lingkungan hidup, yang menjadikan lingkungan hidup mampu menghidupkan manusia dari generasi ke generasi. Sumber daya alam yang mempunyai aneka ragam lingkup hutan menciptakan sistem keanekaragaman hayati yang tinggi. Keanekaragaman hayati memiliki fungsi sebagai hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu.

Hasil hutan kayu merupakan salah satu hasil hutan dengan produk kayu, sedangkan hasil hutan bukan kayu merupakan hasil hutan dengan produk berupa tanaman obat-obatan, arang, minyak atsiri, lebah madu, tanaman hias, sagu dan lain sebagainya. Hasil hutan utama dari hutan hujan tropis didominasi oleh kayu atau masih berwujud dan berbentuk kayu, baik kayu utuh atau solid, maupun produk yang telah mengalami proses pengolahan atau konversi awal yang kemudian dikenal dan digolongkan ke dalam produk kayu olahan primer.

Hasil hutan bukan kayu dalam kategori tanaman obat-obatan memiliki keanekaragaman hayati yang cukup banyak, diantara yaitu bajakah, lengkuas hutan, akar wangi dan lain sebagainya. Tanaman obat-obatan dapat dimanfaatkan sebagai bahan farmasi berupa obat kanker, obat sakit gigi, obat sakit perut dan lain sebagainya. Menurut berbagai penelitian disebutkan bahwa tanaman bajakah dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat kanker. Oleh sebab itu, makalah ini disusun dengan membahas sistem pengolahan tanaman bajakah sebagai obat-obatan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah makalah ini adalah bagaimana pengolahan hasil hutan kayu bajakah sebagai obat-obatan?

1.3 Tujuan Makalah

Tujuan makalah ini adalah untuk memahami dan mengetahui pengolahan hasil hutan kayu bajakah sebagai obat-obatan.

II. ISI

2.1 Deskripsi Bajakah

Bajakah banyak ditemukan di daerah pedalaman hutan kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah. Tanaman bajakah ini memiliki batang yang cukup besar dan kokoh dengan akar yang merambat lebih dari 5 meter. Bajakah terdiri dari tiga jenis (Putra, 2019), yaitu :

1.Bajakah Tampala (Spatholobus littoralis Hassk)

Bajakah ini memiliki kandungan senyawa fenolik, flavonoid, tanin, dan saponin yang mampu mempercepat proses penyembuhan luka.

2. Bajakah Lamei

Bajakah ini memiliki kandungan air yang merupakan tanaman hutan hujan tropis yang tumbuh dengan cara merambat.

3. Bajakah Kalalawit (Uncaria gambir Roxb)

Bajakah ini memiliki kandungan phenol dan antibakteri dengan ekstrak gambir terdapat kandungan katekin yang cukup tinggi.

2.2 Pengolahan Bajakah

Saputera (2018) menjelaskan bahwa pengolahan bajakah dapat dilakukan dengan uji efektivitas ekstrak etanolik dengan metode berikut :

  1. Persiapan dan determasi tumbuhan bajakah
  2. Perhitungan replikasi sampel
  3. Pembuatan ekstrak batang bajakah
  4. Pembuatan salep berbagai konsentrasi
  5. Uji efektifitas ekstrak etanolik batang bajakah

Bajakah dapat dimanfaatkan sebagai bahan dugaan obat kanker (Saputera, 2019). Dalam dunia medis mondern, metode pegobatan kanker dilakukan berbagai cara, antara lain kemoterapi, operasi pemotongan jaringan kanker, radioterapi, transplantasi sumsum tulang belakang, imunoterapi, dan terapi hormon. Kanker merupakan suatu pertumbuhan dan perkembangan sel dalam tubuh yang tidak terkontrol dan abnormal. Prinsip pengobatan kanker adalah menghentikan atau membunuh sel-sel kanker tersebut, baik melalui radioterapi maupun metode lainnya yang bersifat menghambat kerja DNA dan RNA seperti 5-fluorouracil dan metotrexate, merusak DNA sel, dan mencegah pembelaan sel. Adapun cara pengolahannya adalah :

  1. Menyiapkan potongan batang bersulur pohon bajakah
  2. Mengeringkan di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering
  3. Mencacah potongan batang yang telah dikeringkan
  4. Merebus potongan batang bajakah bersama dengan air selama 30 menit
  5. Ketika warna air berubah seperti teh, obat siap diminum setiap hari hingga 2 bulan.

2.3 Manfaat Bajakah

Bajakah dimanfaatkan sebagai bahan farmasi atau obat-obatan. Pada setiap jenis bajakah mempunyai keunikan dan manfaat yang berbeda-beda. Pertama, bajakah tempala dimanfaatkan sebagai obat peyembuh luka dengan senyawa fenolik, flavonoid, tanin, dan saponin. Kedua, bajakah lamei dimanfaatkan sebagai obat dengan cara meminum secara langsung cairan yang terkandung di dalam akarnya. Ketiga, bajakah kalawit dimanfaatkan sebagai obat pencegah penyakit jantung, menurunkan berat badan hingga pembantu membentuk kolagen.

III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan makalah ini adalah pengolahan hasil hutan kayu bajakah sebagai obat-obatan adalah pengolahan uji efektivitas ekstrak etanolik dan pengolahan pengobatan kanker.

3.2 Saran

Saran pada makalah ini adalah adanya lanjutan tentang nilai ekonomi yang dimiliki bajakah.

DAFTAR PUSTAKA

Putra, Y. S. 2019. Ternyata Jenis Tumbuhan Bajakah Berikut ini yang dapat Menyembuhkan Kanker. https://blogs.insanmedika.co.id/akar-bajakah/ (diakses pada tanggal 10 November 2019).

Saputera, M. M. A. dan Ayucheceria. N. 2018. Uji Efektivitas Ekstrak Batang Bajakah Tempala (Spatholobus littoralis Hassk.) terhadap Waktu Penyembuhan Luka. Akademi Farmasi ISFI. Bajarmasin.

Saputra, A. P. 2019. Benginilah Cara Mengolah Tanaman Bajakah secara Benar Agar Ampuh untuk Menyembuhkan Kanker.  https://suar.grid.id/read/201820121/ beginilah-cara-mengolah-tanaman-bajakah- secara-benar-agar-ampuh-untuk-menyembuhkan-kanker?page=all (diakses pada tanggal 10 November 2019).

5 Cara Menghadapi Hama Hutan

Materi

Hutan tanaman atau hutan tanaman industri memilki berbagai masalah dalam pengembangannya dan pembangunannya, salah satunya masalah hama hutan.

Perubahan ekosistem dari hutan alam menjadi hutan tanaman industri yang monokultur atau campuran terbatas dapat mengakibatkan terjadinya perubahan ekosistem yang sangat sederhana sehingga memacu peningkatan organisme tertentu khususnya berupa serangga yang dapat berpotensi sebagai hama.

Hama hutan adalah segala organisme hidup yang tergolong pada jenis serangga/satwa yang mengakibatkan kerusakan biji, bibit, tanaman muda dan tua yang secara ekonomi. Ketika jumlah hama hutan berlebihan pada suatu kawasan tertentu akan mengakibatkan kerugian ekonomi melalui menurunya produktifitas hasil hutan, menurunnya pertumbuhan tumbuhan, dan bahkan mematikan suatu vegetasi hutan.

Berdasarkan kegiatan dan aktivitas hama hutan tersebut dapat dihadapi melalui 5 cara ini (TW, H. T. dan Mahfudz. 2012), sebagai berikut :

1. Deteksi

Cara ini merupakan suatu langkah pertama yang bertujuan untuk menghadapi serangan hama yang dapat membawa pada bagian pengambilan tindakan yang tepat. Mendeteksi suatu kehadiran hama pada daerah tertentu bertujuan terhadap tindakan seperti penafsiran populasi hama, membuat strategi baru tentang penanaman, tindakan pengendalian dan mencegah meluasnya serangan hama tersebut.

Cara yang terlambat dapat menimbulkan kehadiran suatu hama yang menyebabkan tidak cukupnya waktu guna mengadakan tindakan tepat. Ketika hal ini terjadi dapat dilakukan dengan cara mendeteksi berpondasi pada gejala kerusakan, pengamatan terhadap hama itu sendiri, maupun bekas-bekas makanan atau kotorannya.

2.Identifikasi Serangga Penyebab

Cara kedua ini memerlukan sistem tegasan tentang hubungan antara penyebab yang diperkirakan serta gejala suatu serangan pada tanaman, supaya cara-cara berikutnya dapat dilakukan dengan tepat. Cara ini bertujuan untuk mencari informasi terhadap sifat-sifat morfologi serangga.

3. Penafsiran terhadap Hubungan antara Serangga dan Tanaman

Cara ketiga ini membentuk tindakan intesitas kontrol yang akan dilakukan kedepannya. Cara ini bertujuan untuk mengetahui informasi terhadap sistem interaksi antara serangga dan tanaman.

4. Analisis

Cara ini menjelaskan tentang tindakan pencegahan yang terjadi pada ulangan peledakan hama pada waktu mendatang untuk mengetahui hubungan antara populasi dengan adanya ledakan yang terjadi.

5. Pengendalian

Cara ini membutuhkan beberapa tindakan yang penting, seperti pemakaian insektisida dan lain sebagainya. Pondasi pengendalian ini adalah teknik dasar dalam menghindarkan serangan hama, membunuh serangga atau menciptakan keadaan lingkungan yang tidak dapat ditoleransi oleh serangga.

Pengendalian hama bertujuan untuk mengurangi populasi hama sebelum hama mencapai tingkat makan aktif di daerah tertentu. Kegiatan pengendalian ini berupa sanitasi, pergiliran tanaman dan kontrol secara biologi.

Pengendalian hama dapat dilakukan melalui perlindungan tanaman yang bertujuan untuk mengurangi kerusakan pada tanaman. Dan dapat juga dilakukan dengan pengunduran waktu tanam atau panen serta penggunaan varietas tahan hama yang mampu mengurangi kerusakan suatu tanaman.

Sumber :

TW, H. T. dan Mahfudz. 2012. Hama Hutan Indonesia Catatan 20 Tahun Peneliti. Balai Penelitian Kehutanan Manado. Manado