Showing posts with label Laporan. Show all posts
Showing posts with label Laporan. Show all posts

Friday, 19 June 2020

Laporan Praktek Pemeliharaan dan Pemupukan Tanaman Balangeran di KBR Sylva Green Campus UPR

UPR

Keberadaan lahan gambut memiliki peranan yang sangat baik dalam lingkup lokal, regional maupun global. Lahan gambut memiliki fungsi ekologis, ekonomi dan sosial budaya. Fungsi ekologis yang diperankan lahan gambut yaitu menjaga keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, penghasil oksigen dan pengelolaan air. Sedangkan fungsi ekonomi dan sosial budaya yaitu sebagai penghasil kayu dan sumber penghidupan masyarakat, ekowisata serta tempat pendidikan dan penelitian (Rotinsulu et al., 2019).

Lahan gambut memiliki  keanekaragaman hayati yang tinggi, salah satunya yaitu balangeran. Balangeran merupakan tanaman dengan famili Dipterocarpaceae yang dapat digunakan untuk balok dan papan pada bangunan perumahan, jembatan, lunas perahu, bantalan dan tiang listrik (Suryanto et al., 2012). Budidaya tanaman balangeran dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yaitu tersedianya unsur-unsur hara yang cukup di dalam tanah, dimana kesuburan tanah adalah kesediaan tanah dimana tata air, udara, dan unsur hara dalam keadaan cukup seimbang dan tersedia serta dengan tuntutan tanaman (Rotinsulu et al., 2019).

Ramadhan (2015) menyatakan bahwa faktor lingkungan berpengaruh terhadap metabolisme primer dan sekunder yang dihasilkan oleh tanaman. Misalnya ketersediaan hara dalam tanah. Ketersediaan hara dalam tanah dapat ditambahkan melalui pemupukan, seperti pumupukan organik. Penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah, aktivitas mikroorganisme, memperbaiki struktur tanah dan mikroba tanah. Beberapa pupuk organik yang dapat digunakan antara lain pupuk kandang ayam sebagai sumber N (Hardjowigeno, 2010).

Tanah dikatakan subur atau tidak, tergantung jenis tanaman tertentu dengan pola konsumsi berbeda. Dari berbagai penelitian menyatakan bahwa tanaman balangeran yang diberikan pupuk organik mempunyai hubungan terhadap meningkatnya pertumbuhan diameter dan tinggi serta meningkatkan nilai kesuburan tanah tersebut. Berdasarkan hal itu maka dilakukan praktek ini untuk mengetahui hubungan antara pertumbuhan diameter dengan tinggi melalui pengaruh pemupukan organik.

Tujuan dan manfaat praktek ini adalah :

  1. Untuk mengetahui teknik pemupukan tegakan hutan (tanaman) dan mengukur diameter serta tinggi tanaman sebagai respon peningkatan kesuburan tanah dengan penambahan unsur hara.
  2. Untuk mengindentifikasi kesuburan tanah tingkat tapak.

Download full-text PDF

Wednesday, 17 June 2020

Perhitungan dan Penggunaan Proyeksi Peta (Laporan Praktek IUTP)

Perhitungan

Imu ukur tanah dan pemetaan merupakan mata kuliah yang memiliki berbagai hal mengenai peta. Peta merupakan gambaran suatu tempat seperti kota, negara atau benua yang memperlihatkan kharakteristik utamanya bila di lihat dari atas.

Jadi pemetaan dapat diartikan sebagai kegiatan penggambaran permukaan bumi yang di proyeksikan ke  dalam bidang datar dengan skala tertentu.

Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran  berbentuk bola ke permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin.

Proyeksi peta diupayakan dengan sistem yang memberikan hubungan antara  posisi titik-titik di muka bumi dan di peta. Proyeksi diartikan sebagai metode/cara  dalam usaha mendapatkan bentuk ubahan dari dimensi tertentu menjadi bentuk dimensi yang sistematik. Bentuk bumi bukanlah bola tetapi lebih menyerupai ellips 3 dimensi atau ellipsoid (Soetomo Wongsotjiro, 1980).

Pemetaan memiliki prinsip dasar dalam mengukur sudut dan jarak untuk menentukan posisi  dari  suatu  titik. Prinsip dasar ini yang dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan bentuk lengkung bumi dan tanpa mempertimbangkan bentuk  lengkung  bumi.

Dalam  praktikum  ini  pengukurannya  menggunakan  cara pengukuran arah dari dua titik atau lebih yang dibidik dari satu titik control dan jatak antara titik diabaikan. Permukaan bumi ini tidak  rata alias  melengkung-lengkung tidak beraturan akan tetapi peta membutuhkan  suatu  gambaran  dalam  bidang datar maka diperlukan pengkonversian  dari  bidang  lengkung  bumi  sebenarnya ke bidang datar agar tidak terjadi distorsi permukaan bumi. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan praktek tentang proyeksi peta dan disusun pada laporan ini.

Adapun tujuan praktikum yang sedang dilaksanakan adalah untuk :

1. Mampu untuk mengetahui proyeksi peta dari bola bumi ke bentuk bidang datar.

2. Mengetahui atau menentukan titik koordinat pada google earth,

3. Menentukan jarak pasti diantara kedua tempat menggunakan koordinat.

Sistem Proyeksi Peta

Bentuk bumi berupa ruang 3D yg  melengkung menyerupai ellipsoid. Untuk merepresentasikan bentuk  bumi dalam bidang datar (2D) perlu dilakukan transformasi dengan menggunakan metode proyeksi peta.

Proyeksi adalah metode untuk merubah permukaan lengkung (3D) menjadi representasi dalam bidang datar (2D). Proyeksi peta didefinisikan sebagai fungsi matematika untuk mengkonversikan antara lokasi pada permukaan bumi dan  proyeksi lokasi  pada peta. Pengkonversian dilakukan dari sistem referensi geografis (spherical) menjadi sistem planar (cartesian).

Misal: lintang (latitude)/bujur (longitude). Peta merupakan gambaran permukaan bumi dalam skala yang lebih kecil pada bidang datar. Suatu peta idealnya harus dapat memenuhi ketentuan sebagai berikut:

  1. Jarak antara titik yang terletak di atas  peta  harus  sesuai  dengan  jarak sebenarnya di permukaan bumi ( dengan memperhatikan faktor skala peta).
  2. Luas  permukaan  yang  digambarkan  di  atas  peta  harus  sesuai  dengan luas sebenarnya di permukaan bumi ( dengan memperhatikan faktor skala peta).
  3. Besar sudut atau arah suatu garis yang digambarkan di atas peta harus sesuai dengan besar sudut atau arah sebenarnya di permukaan bumi.
  4. Bentuk  yang  digambarkan  di  atas  peta  harus  sesuai  denganbentuk  yang sebenarnya di permukaan bumi ( dengan memperhatikan faktor peta).
Pada daerah yang relatif kecil permukaan bumi diasumsikan sebagai bidang datar, sehingga pemetaan daerah tersebut dapat dilakukan tanpa proyeksi peta dan tetap memenuhi semua persyaratan geometrik.

Namun karena permukaan bumi secara  keseluruhan merupakan permukaan yang melengkung, maka pemetaan pada bidang datar tidak dapat dilakukan dengan sempurna tanpa terjadi perubahan (distorsi) dari bentuk yang sebenarnya sehingga tidak semua persyaratan  geometrik peta  yang ideal’ dapat  dipenuhi (Soetomo  Wongsotjiro, 1980).

Download full-text PDF

Laporan Praktikum Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas Merah Terhadap Larva Nyamuk

Laporan

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan oleh virus dengue, ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Sampai saat ini, penyakit tersebut masih merupakan masalah kesehatan masyarakat  Indonesia.

Nyamuk menyerang bagian utama dari sistem transportasi dalam tubuh manusia, yakni darah. Sebagai akibat dari serangan tersebut, jumlah trombosit dalam darah mengalami penurunan, jika tingkat serangan tinggi dan waktu penanganan lambat berakibat fatal yaitu kematian (Boekoesoe, 2013).

Mengatasi masalah perkembangan penyakit demam berdarah tersebut adalah dengan memutus perkembangan nyamuk dengan cara abatesasi menggunakan larvasida abate SG-1 yang berisi temefos (Boekoese, 2013).

Penggunaan abate sebagai larvasida menimbulkan keluhan dengan terjadinya bau yang tidak enak pada air yang diberi abate, serta kemungkinan timbulnya dampak resistensi terhadap nyamuk dan dampak terhadap kesehatan manusia apabila digunakan secara terus menerus.

Penggunaan tanaman sebagai biopestisida merupakan suatu cara pengendalian secara alami, sebagai alternatif yang ramah lingkungan, mudah diaplikasikan dan tidak berbahaya bagi musuh alami dan tidak menguntungkan lainnya.

Biopestisida dinilai lebih selektif dan aman, mudah terdegradasi di alam sehingga tidak meninggalkan residu di tanah, air, dan udara (Boekoese, 2013). Biopestisida ini juga pada bagian larvasida dikenal dengan insektisida nabati yang bersifat biodegradable, tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi kesehatan. Salah satu bahan bakunya yaitu lengkuas merah yang dapat menghasilkan minyak atsiri.

Lengkuas merah dimanfaatkan sebagai bahan pewangi dan penambah flavor masakan serta pengawet makanan. Dan juga rimpang lengkuas telah lama digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati radang lambung, kolik, panu, eksim, jerawat, koreng, bisul, kurap dan bercak-bercak kulit. Shelef (1983) menyatakan bahwa ekstrak lengkuas dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif (Staphylococcus aureus) dan gram negatif (Salmonella typhosa).

Lengkuas merah mengandung jenis komponen yaitu kuersetin dan kaemferol yang diduga dapat digunakan sebagai antilarva. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan praktikum aktivitas minyak atsiri lengkuas merah (Alpinia purpurata K. Schum) terhadap larva nyamuk.

Tujuan praktikum minyak atsiri ini adalah :

  1. Mengindetifikasi rendemen dan warna bau minyak atsiri rimpang Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum).
  2. Mengetahui aktivitas dan efektifitas minyak atsiri rimpang Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum) terhadap larva nyamuk dengan menentukan nilai IC(50).
Download full-text PDF

Tuesday, 16 June 2020

Interpretasi Citra menggunakan Software ENVI 5.3 (Laporan Praktek PJ)

Interpretasi

Penginderaan jauh adalah ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah atau gejala, dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat, tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau gejala yang akan dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990).

Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh data dari jarak jauh dengan menggunakan peralatan tertentu. Data yang diperoleh itu kemudian dianalisis dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Data yang diperoleh dari penginderaan jauh dapat berbentuk hasil dari variasi daya, gelombang bunyi atau energi elektromagnetik.

Penginderaan jauh mempunyai peran yang sangat penting dalam hal pemetaan, cakupannya yang luas karena menggunakan citra satelit sehingga dapat melihat luasan dearah yang cukup luas secara berskala.

Dalam penginderaan jauh didapat masukan data atau hasil observasi yang disebut dengan citra. Interpretasi citra merupakan kegiatan mengkaji foto udara dan atau citra dnegan maksud untuk mengindentifikasi objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut diperlukan beberapa koreksi terlebih dahulu yaitu koreksi geometrik. Setelah adanya koreksi geometrik, maka citra siap di analisis dengan klasifikasi citra.

Program aplikasi pengolahan citra untuk klasikasi ialah ENVI, menggunakan suatu konsep pengolahan data yang dinamakan algoritma, dimana algoritma memisahkan data citra dapat disimpan dan diedit di dalam suatu file algoritma yang dapat digunakan untuk tahapan pengolahan data citra lainnya.

Oleh karena itu, sangat penting untuk bisa melakukan proses pengolahan dan pemrosesan citra dalam program aplikasi pengolahan citra tersebut.

Interpretasi Citra

Kawamuna (2017) menyatakan interpretasi citra adalah perubuatan mengkaji foto udara dan citra dengan maksud untuk mengindektifikasi objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut.

Ada tiga rangkaian kegiatan yang diperlukan dalam pengenalan objek yang tergambar pada citra, yaitu :

  1. Deteksi merupakan pengamtan adanya suatu objek, misalnya pada gambaran sungai terdapat objek yang bukan air.
  2. Identifikasi merupakan upaya yang mencirikan objek yang telah didekteksi dengan menggunakan keterangan yang cukup.
  3. Analisis merupakan pengumpulan keterangan lebih lanjut.
Pengenalan objek merupakan bagian paling vital dalam interprestasi citra. Foto udara sebagai citra tertua di dalam penginderaan jauh memiliki unsur interprestasi yang paling lengkap dibandingkan unsur interpretasi pada citra laiinnya (Kawamuna, 2017). Interpretasi citra terdiri dari: Rona dan warna, bentuk, ukuran, tekstur, pola, banyangan, situs, dan asosiasi.

Interpretasi citra merupakan serangkaian kegiatan identifikasi, pengukuran penterjemah data-data pada sebuah atau serangkaian data penginderaan jauh untuk memperoleh informasi yang bermakna. Sebuah data penginderaan jauh dapat diturunkan banyak informasi dari serangkaian proses interpretasi citra ini.

Dalam proses interpretasi, objek diidentifikasi berdasarkan pada karakteristik yaitu : tareget dapat berupa titik, garis ataupun area dan terget harus dapat dibedakan dengan objek lainnya (Kawamuna, 2017).

Download full-text PDF

Pemetaan Wilayah Menggunakan Drone (Laporan Praktek IUTP)

Pemetaan

Latar Belakang

Perkembangan permintaan akan pemetaan suatu wilayah dalam berbagai bidang, maka semakin berkembang pula berbagai macam metode pemetaan.

Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi kamera udara, film dan pesawat, maka pekerjaan pemetaan dapat dilakukan dengan waktu yang relatif cepat dan akurasi tinggi. Penggunaan satelit dalam menjalankan misi pemetaan saat ini dinilai kurang, karena foto yang dihasilkan kurang jelas dan membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan pemetaannya.

Berkembangnya teknologi menciptakan teknologi yang dapat dikendalikan tanpa harus berada dalam lokasi, seperti drone. Drone banyak dipakai saat ini dalam proses pemetaan dengan mengandalkan metode foto udara.

Ditinjau dari efisiensi biaya pada pemetaan menggunakan metode foto udara sangat dipengaruhi oleh jenis kamera dan wahana yang digunakan.Untuk luas area yang relatif lebih kecil (±100ha) pemotretan menggunakan kamera metrik menjadi tidak optimal, karena biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dengan kecilnya volume pekerjaan.

Foto yang diperoleh menggunakan drone dapat diolah menggunakan aplikasi Agisoft Photoscan yang pada akhirnya dapat menghasilkan hasil pemetaan yang actual dan akurat. Untuk itulah praktikum ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan drone dan proses penggunaannya serta bagaimana cara untuk mengolahnya menjadi bentuk pemetaan dalam aplikasi Agisoft Photoscan.

Tujuan Praktek

Tujuan Praktek ini adalah mengetahui proses penggunaan drone dalam memetakan suatu wilayah dengan menggunakan aplikasi Agisoft Photoscan.

Adapun beberapa yang perlu dipelajari pada praktikum ini adalah :

Pengertian Drone

Drone merupakan pesawat tanpa pilot yang mana pada sistem kendalinya dapat dikendalikan secara otomatis melalui program komputer yang dirancang, atau melalui kendali jarak jauh dari pilot yang terdapat di dataran atau di kendaraan lainnya. Drone, yang lebih dikenal Unmanned Aerial Vehicle (UAV) awalnya dikembangkan untuk kebutuhan militer.

Sejarah Drone

Ide pengembangan pesawat tanpa pilot sudah ada sejak 22 Agustus 1849. Waktu itu, Austria berusaha menyerang kota Venesia di Italia dengan menggunakan balon tak berawak yang penuh akan bahan peledak. Cara kerja drone sederhana ini tidak sepenuhnya berhasil. Beberapa balon mengenai sasaran, tetapi ada pula yang terjebak angin dan berubah arah.

Manfaat Drone

Awalnya UAV merupakan pesawat yang dikendalikan jarak jauh, namun sistem otomatis kini mulai banyak diterapkan. Perkembangan teknologi membuat drone juga mulai banyak diterapkan untuk kebutuhan sipil, terutama di bidang bisnis, industri dan logistik.

Amazon memulai persaingan industri ini melalui peluncuran layanan Amazon Prime Air.Pengangkutan barang menjadi lebih cepat, lebih praktis, minim human error, dan mampu menjangkau lokasi terpencil.

Hingga saat ini di dunia industri bisnis, drone telah diterapkan dalam berbagai layanan seperti:  Pengawasan Infrastruktur Fisik (pabrik, pelabuhan, jaringan listrik, dsb.), pengiriman paket barang, pemadam kebakaran hutan, eksplorasi lokasi tambang maupun minyak/mineral.

Download full-text PDF

Monday, 15 June 2020

Memprediksi Erosi dengan Model USLE (Laporan Praktikum KTA)

Memprediksi

Latar Belakang

Tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang telah mengalami tekanan seiring dengan peningkatan jumlah manusia. Tekanan tersebut telah menyebabkan penurunan mutu tanah yang mampu mengurangi kemampuan tanah untuk berproduksi.

Penurunan mutu tanah ini disebabkan oleh proses pencucian hara dan proses erosi tanah yang mengutamakan di lahan-lahan yang tidak memliki penutupan vegetasi. Sehingga erosi dapat diartikan sebagai peristiwa hilangnya lapisan tanah atau bagian-bagian tanah di permukaan.

Erosi mampu menimbulkan kerusakan baik pada tanah tempat terjadi erosi maupun pada tempat tujan akhir tanah yang terangkut diendapkan. Tanah tempat erosi yang rusak mengalami penurunan sifat-sifat kimia dan fisik tanah yang pada akhirnya menyebabkan memburuknya pertumbuhan tanaman dan rendahnya produktivitas.

Dan tempat tujuan akhir tanah tang terangkut diendapkan menyebabkan pendangkalan sungai, waduk dan saluran irigasi. Akibat adanya peningkatan jumlah air di permukaan dan mendangkalnya sungai menyebabkan tingginya terjadinya banjir (Murdis, 1999).

Terjadinya erosi di suatu tempat dapat diprediksi melalui berbagai model erosi yang dapat dipakai, salah satunya model Universal Soil Loss Eqation (USLE). Prediksi erosi ini merupakan suatu metode yang bertujuan untuk memperkirakan atau menduga laju erosi yang terjadi dari tempat yang dipergunakan bagi usaha pertanian tertentu dan sebagainya.

Persamaan model USLE merupakan salah satu model pendugaan erosi yang digunakan untuk menghitung besarnya erosi yang terjadi dalam jangka panjang pada suatu daerah. Model USLE mempunyai kelebihan, yaitu proses pengolahan datanya yang sederhana yang memudahkan menghitung secara manual maupun menggunakan alat bantu program komputer (Indrawanti, 2000).

Berdasarkan kelebihan model USLE ini, perlu dilakukan praktikum dalam membuktikan mampu memprediksi erosi dan menghitung Indeks Bahaya Erosi (IBE), sehingga mampu mencegah kerusakan suatu lahan akibat erosi dapat dihindari sedini mungkin dengan teknik-teknik konservasi lahan maupun teknik konservasi tanah dan air.

Tujuan Praktik

Tujuan praktikum konservasi tanah dan air ini adalah untuk mengetahui dan mampu memprekdiksi erosi dengan menggunakan persamaan USLE termasuk mampu melakukan perhitungan Indeks Bahaya Erosi (IBE).

Untuk laporan praktikumnya bisa di download dibawah ini,

Download full-text PDF

Sekian artikel tentang Memprediksi Erosi dengan Model USLE (Laporan KTA), semoga bermanfaat bagi para pembaca,

"Salam Lestari"

Saturday, 13 June 2020

Menghitung Faktor Erodibilitas Tanah (Laporan Praktikum KTA)

Menghitung

Latar Belakang

Konservasi tanah dan air merupakan dua hal yang berkaitan erat sekali, berbagai tindakan konservasi tanah merupakan tindakan konservasi air. Dalam konservasi tanah dan air ini memiliki persoalan tentang kompleks dan memerlukan kerjasama yang erat antara berbagai disiplin ilmu pengetahuan yaitu ilmu tanah, klimatologi, hidrologi dan teknik konservasi tanah. Kegiatan konservasi tanah dan air bermanfaat dalam mencegah terjadinya banjir dan kekurangan air dan mempertahankan kestabilan ekosistem.

Dalam kegiatan konservasi tanah dan air bertujuan untuk menutup tanah dengan tumbuhan atau sisa-sisa tumbuhan agar terlindung dari perusak butir-butir hujan yang jatuh dan memperbaiki tanah agar resisten terhadap daya penghancur agregat oleh aliran permukaan dan lebih besar dayanya untuk menyerap air di permukaan tanah.

Peristiwa erosi yang didahului oleh pelapukan disebut awal pembentukan tanah yang berlanjut ke perkembangan tanah. Pembentukan tanah merupakan bagian integral dari proses geomorfologi dimana bentuk lahan dan tanah merupakan dua macam sumberdaya alam yang satu sama lain saling terkait dalam tanah. Yang kemudian akan mempengaruhi perubahan sifat-sifat erodibilitas tanah.

Semakin tinggi erodibilitas tanah semakin banyak tanah yang tererosi hal ini pada ini akan mempengaruhi terhadap perkembangan bentuk lahan. Dengan demikian erodibilitas tanah sebagai salah satu bagain dari faktor penyebab erosi juga memiliki kontribusi dalam perkembangan juga memiliki kontribusi dalam perkembangan bentuk lahan.

Dalam laporan konservasi tanah dan air ini akan membahas erodibilitas tanah mengunakan rumus sistematis atau nomograf yang berlaku pada erodibilitas tanah. Erodibilitas tanah yang menggunakan rumus sistematis merupakan suatu cara untuk memperoleh nilai erodibilitas tanah dari data faktor erodibilitas tanah. Sedangkan erodibilitas tanah menggunakan nomograf merupakan cara menentukan nilai erodibilitas tanah melalui gambar nomograf.

Tujuan Praktik

Adapun tujuan praktik Konservasi Tanah dan Air ini adalah untuk memahami dan mampu menghitung erodibilitas dengan persamaan matematis dari suatu contoh data primer atau data sekunder (data yang tersedia).

Sekian artikel tentang Menghitung Faktor Erodibilitas Tanah (Laporan KTA), semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Silahkan download laporan praktikumnya dibawah ini,

Download full-text PDF

Thursday, 11 June 2020

Analisis Vegetasi (Laporan Praktikum Ekologi Hutan)

Analisis

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hutan menurut Undang-Undang tentang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999 adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Di dalam hutan terdapat kumunitas tumbuhan (vegetasi), yang berperan penting terhadap ekosistem suatu hutan.

Setiap jenis tumbuhan membutuhkan kondisi lingkungan yang spesifik  untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Perubahan dan variasi kondisi lingkungan tertentu akan memberikan dampak bagi kompisisi dan struktur  vegetasi.

Dalam mata kuliah ekologi hutan ada yang mempelajari mengenai analisi komunitas tumbuhan (vegetasi) yang merupakan suatu studi untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi serta keragaman kondisi hutan. Untuk melakukan analisis vegetasi, pada dasarnya ada dua macam metode yang dapat dipergunakan, yakni metode dengan petak dan metode tanpa petak.

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan praktikum Ekologi Hutan ini dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui dan memahami teknik sampling vegetasi serta menganalisis analisis vegetasi terhadap petak contoh tersebut.
  2. Untuk mengetahui vegetasi yang dominan terhadap lokasi praktikum tersebut.
TELAAH PUSTAKA

Komposisi dan Struktur Vegetasi

Komposisi jenis vegetasi merupakan susunan dan jumlah individu yang terdapat dalam suatu komunitas tumbuhan.  Komposisi dan struktur  vegetasi salah satunya dipengaruhi oleh faktor tempat tumbuh (habitat) yang berupa situasi iklim dan keadaan tanah. Komposisi vegetasi memiliki daftar floristik yang sangat berguna karena dapat dipakai sebagai salah satu parameter vegatasi untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan dan komunitas.

Komposisi jenis juga dapat diartikan sebagai jenis-jenis yang ditanam di hutan tanaman merupakan jenis-jenis terpilih, sesuai keinginan pengelolanya. Akibatnya pemilihan jenis ini maka akan terjadi kekhasan jenis yaitu cenderung pada jenis-jenis yang bermanfaat dan memiliki nilai jual tinggi (Basahona Ato, 2016).

Struktur vegetasi dapat dibagi menjadin lima berdasarkan tingkatannya, yaitu fisiogonomi vegetasi, struktur biomassa, sruktur bentuk hidup, struktur floristik, struktur tegakan.

Dan juga struktur vegetasi terdiri dari tiga komponen, yaitu sebagai berikut :

  1. Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan diagram profil yang melukiskan lapisan pohon, tiang, sapihan, semai, dan herba penyusun vegetasi.
  2. Sebaran, horizontal jenis-jenis penyusun yang mengambarkan letak dari suatu individu lain.
  3. Kelimpahan setiap jenis dalam suatu komunitas.
Silahkan download laporan praktikumnya dibawah ini,

Download full text PDF

Sekian artikel yang membahas tentang Analisis Vegetasi (Laporan Praktikum Ekologi Hutan), semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Hama dan Penyakit Hutan (Laporan Praktek PPH)

Hama

Latar Belakang

Pembangunan hutan tanaman umumnya dilakukan dengan mengkonversi ekosistem hutan alam tropis yang kompleks menjadi hutan yang monokultur atau terdiri dari sedikit jenis.

Di hutan alam yang tidak terpelihara terdapat banyak jenis hama dan patogen, tetapi pernah menyebabkan terjadinya ledakan populasi (hama dan patogen), sebab serangan yang terjadi biasanya secara silih berganti pada jenis dan umur tertentu saja, sehingga keseimbangan alami tetap terjaga. Di hutan monokultur yang mengandung makanan berlimpah, organisme perusak tertentu mempunyai peluang yang lebih baik untuk berkembang dengan cepat hingga dapat mencapai populasi yang tinggi dan menimbulkan kerusakan yang berarti (Firdara dkk., 2019).

Perlindungan hutan mengutamakan pencegahan awal terjadinya atau perkembangan suatu kerusakan melalui perencanaan silvikultur dan pengelolaan yang baik. Apabila diwujudkan maka prosedur itu akan lebih efektif daripada pengendalian langsung setelah kerusakan besar terjadi. Oleh karena itu teknik pencegahan dan pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (OPT) di sektor kehutanan perlu segera mendapatkan perhatian khusus, karena masalah OPT sektor kehutanan di Indonesia masih kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan kegiatan perlindungan hutan yang lain.

Upaya ini harus ditempuhh karena masalah OPT merupakan bagian integral dari kegiatan pengelolaan hutan. Para ahli kehutanan mengatakan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan kerusakan, baik yang berasal dari luar hutan maupun faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan hutan dapat terdiri dari organisme hidup (biotik) atau faktor-faktor lingkungan fisik (abiotik). Penyebab kerusakan hutan dari organisme salah satunya adalah penyakit hutan. Penyakit hutan dapat menimbulkan kerugian antara lain menguangi kuantitas dan kualitas hasil dan meningkatnya biaya produksi (Anggraeni, 2012).

Hutan dikampus Jurusan Kehutanan merupakan hutan yang memiliki berbagai jenis tanaman hutan. Hutan ini memilki kesamaan dengan hutan lainnya yaitu hutan ini mengalami serangan hama dan memilki berbagai penyakit. Akan tetapi belum diketahui secara pasti berapa intesitas serangan terhadap tegakan hutan di kampus Jurusan Kehutanan. Oleh sebab itu praktek Perlindungan dan Pengamanan Hutan dilaksanakan supaya mengetahui kriteria serangan hama dan penyakit terhadap kawasan hutan Jurusan Kehutanan.

Tujuan Praktek

Tujuan praktek Perlindungan dan Pengamanan Hutan adalah :

  1. Untuk mengenal beberapa hama dan penyakit melalui pengamatan secara visual pada objek yang telah ditentukan.
  2. Untuk menghitung Intensitas Serangan (IS) dan Frekuensi Serangan (FS) serta menentukan kriteria serangan.
Silahkan download laporan prakteknya, dibawah ini

Download full-text PDF

Sekian artikel yang membahas tentang Hama dan Penyakit Hutan (Laporan Praktek PPH), semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Monday, 1 June 2020

Pengendalian Gulma pada Tanaman Balangeran (Laporan Praktek Kehutanan Masyarakat)

pengendalian

Latar Belakang

Tanaman Balangeran (Shorea balangeran (Korth.) Burck.) merupakan sejenis kayu yang tergolong kelas kuat-II dan mempunyai berat jenis 0,86 yang habitat aslinya berada di hutan rawa (Suryanto, dkk., 2012).

Sehingga tanaman ini banyak digunakan dalam produksi kayu lapis, mebel, maupun kayu pertukangan. Akibat banyaknya permintaan untuk produksi kayu Shorea balangeran, tetapi disisi lain jumlah populasi terus mengalami penurnan akibat penebangan (Pamoengkas dan Prasetia, 2014).

Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya menjalin kerjasama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kahayan (BPDAS Kahayan) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia melalui program Kebun Bibit Rakyat (KBR) melakukan penanaman Shorea balangeran di Hutan Kampus Universitas Palangka Raya (Yanarita, 2019).

Permasalahan yang sering muncul dalam kegiatan penanaman Shorea balangeran adalah adanya gangguan gulma yang akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman pokok. Gulma selain dapat menganggu dalam kompetisi dalam hal air, zat hara, sinar matahari dengan tanaman pokok juga dapat berfungsi sebagai inang hama dan penyakit (Dawson dan Holstun, 1971).

Selain itu gulma memiliki peranan lain yaitu sebagai alelopati, alelomediasi dan alelopoli. Alelopati merupakan gulma dapat mengeluarkan bahan kimi untuk menekan bahkan mematikan tumbuhan atau tanaman lain. Alelomediasi adalah gulma sebagai tempat tinggal bagi beberapa jenis hama tertentu atau gulma sebagai penghubung antara hama dengan tanaman budidaya. Dan alelopoli adalah gulma bersifat monopoli atas air, unsur hara, dan sinar matahari (Riry, 2008).

Pengendalian gulma dapat dilakukan secara kultur teknik, mekanik, biologis, kimiawi dan terpadu (Cholid, 2004). Pengendalian gulma secara biologis merupakan teknik yang memperhatikan pengaruh interaksi antar tanaman baik pengaruh positif maupun negatif yang mengutamakan pengendalian secara alami dengan menciptakan keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan gulma dan meningkatkan daya saing tanaman terhadap gulma.

Oleh karena itu perlu dilakukan pratek tentang pengendalian gulma terhadap Shorea balangeran menggunakan tumbuhan kunyit dan ubi jalar.

Tujuan Praktek

Praktek mata kuliah Kehutanan Masyarakat bertujuan untuk :

  1. Mengetahui jenis gulma yang mengganggu pertumbuhan Shorea balangeran.
  2. Menghilangkan kemelimpahan gulma (kerapatan mutlak dan frekuensi mutlak) sebelum dan sesudah dilakukan penanaman penahan gulma
Manfaat Praktek

Manfaat praktek Kehutanan Masyarakat adalah :

  1. Diketahui jenis-jenis gulma dominan yang mempengaruhi pertumbuhan Shorea balangeran merupakan langkah awal yang menentukan keberhasilan pengendalian gulma.
  2. Diketahuinya jenis tanaman semusim yang dapat mengendalikan pertumbuhan gulma sehingga dapat mengurangi pemeliharaan tanaman Shorea balangeran baik dari segi tenaga maupun biaya.
Silahkan download laporannya di bawah ini,

Download full-text PDF

Sekian artikel yang membahas tentang Pengendalian Gulma pada Tanaman Balangeran (Laporan Praktek Kehutanan Masyarakat), semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan

Saturday, 30 May 2020

Pemetaan Lokasi (Laporan IUTP) Menggunakan Software (Avenza Map, DNR Garmin, Garmin Base Camp dan ArcGis)

pemetaan

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas beberapa laopran IUTP, diantaranya Pemetaan Wilayah Menggunakan Drone (Laporan Praktek IUTP) dan Perhitungan dan Penggunaan Proyeksi Peta (Laporan Praktek IUTP) .

Pada kesempatan ini, kita akan lanjut untuk mempelajari laporan IUTP yang membahas tentang 4 software yaitu Avenza Map, DNR Garmin, Garmin Base Camp, dan ArGis.

(Catatan : IUTP (Ilmu Ukur Tanah dan Pemetaan)

Latar Belakang

Ilmu ukur tanah merupakan bagian rendah dari ilmu yang lebih luas yang dinamakan ilmu geodesi. Pengukuran dan pemetaan pada dasarnya dapat dibagi 2, yaitu, Geodetic surveying dan plan surveying. Geodetic serveying adalah suatu pengukuran untuk menggambarkan permukaan bumi pada bidang melengkung/elipsoida/bola.

Sedangkan plan surveying adalah ilmu seni dan teknologi untuk menyajikan bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia pada bidang yang dianggap datar (Muda, 2008).

Bentuk bumi merupakan pusat kajian dan perhatian dalam ilmu ukur tanah. Proses penggambaran permukaan bumi secara fisiknya addalah erupa bola yang tidak beraturan bentuknya dan mendekati bentuk sebuah jeruk (Muda, 2008). Hal tersebut terbukti informasi tentang bentuk bumi, mengalami kesulitan karena bentuknya yang tidak beraturan ini, oleh sebab itu dicari bentuk informasi sistematis yang dapat mendekati bentuk bumi.

Lokasi di pusat komputer Universitas Palangka Raya adalah lokasi praktek yang dapat dipetakan lokasinya menggunakan berbagai sofware yang dibutuhkan. Laporan ini akan membahas tentang pemetaan lokasi tersebut menggunakan 4 sofware yang telah ditentukan.

Tujuan Praktek

Tujuan praktek mata kuliah Ilmu Ukur Tanah dan Pemetaan adalah untuk memahami dan mengetahui cara pembuatan peta di lokasi Pusat Komputer Universitas Palangka Raya melalui software Avenza Map, Basecamp, DNR GPS, dan ArcGIS.

Penutup

Setelah kita sudah paham pada bagian atas tersebut, silahkan download laporannya dibawah ini.

Download full-text PDF

Sekian artikel yang membahas tentang pemetaan lokasi mengunakan software (Avenza Map, DNR Garmin, Garmin Base Camp dan ArcGis) (laporan IUTP), semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Sumber :

Ginanto, N. 2017. Proses Geotagging. https:// novikaginanto. wordpress.com /2013/03/20/proses-geotagging/ (diakses pada tanggal 08 Juli 2019).

Kurniawan, dkk,. 2017. Pemetaan Berbasis Android Menggunakan Avenza Map. https://rosegislabs.com/2017/06/08/pemetaan-berbasis-android-menggunakan-avenza-map/ (diakses pada tanggal 08 Juli 2019).

Muda, I. 2008. Teknik Survei dan Pemetaan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta.

Rifa'i, M.F. 2012. Pengertian Digitasi. https:// gisindonesiablog. wordpress. com/2012/10/25/digitasi/ (diakses pada tanggal 08 Juli 2019).

Septiana, E. 2018. Georeferencing Raster di ArcGIS. http://www.info-geospasial.com/2015/07/georeferencing-image- in- arcgis.html (diakses pada tanggal 08 Juli 2019).

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan

Saturday, 9 May 2020

Alat-alat Pengukuran Praktikum Fisika Dasar

Latar Belakang

Pengukuran adalah suatu bagian penting dalam ilmu fisika. Dalam melakukan penelitian, pengukuran merupakan salah satu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Tidak hanya dalam ilmu fisika, pengukuran juga sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas mengukur menjadi sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam mempelajari berbagai fenomena yang sedang dipelajari.

alat

Oleh karena itu praktikum pengukuran merupakan suatu bagian yang sangat penting dalam mempelajari fisika, karena sudah dapat diketahui betapa penting dibutuhkannya aktivitas pengukuran dalam ilmu fisika. Maka tidak ada alasan bagi para fisikawan bahkan mahasiswa untuk mengabaikannya dalam riset-riset mereka.

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan praktikum ini dilaksanakan adalah untuk mengetahui alat, fungsi instrumennya serta kegunaan alat yang digunakan dalam penelitian.

Landasan Teori Pengukuran

Pengukuran adalah proses untuk memperoleh informasi suatu  besaran fisis tertentu, misalnya seperti tekanan, suhu, tegangan, arus listirik, dan lain sebagainya. Informasi yang diperoleh dapat berupa nilai dalam bentuk angka (kuantitatif) maupun berupa pernyataan yang merupakan sebuah kesimpulan (kualitatif).

Untuk memperoleh informasi tersebut, maka kita memerlukan alat ukur, misalnya untuk mengetahui tegangan, arus listrik, hambatan kita dapat menggunakan alat multimeter, untuk mengetahui panjang suatu benda kita dapat menggunakan alat ukur mistar, dan lain sebagainya (Pandiangan, 2014).

Pengukuran Panjang

Dalam praktikum ini ada 2 alat ukur panjang yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. Mistar

Mistar atau penggaris adalah alat ukur panjang yang sering digunakan. Alat ukur ini memiliki skala terkecil 1 mm atau 0,1 cm. Mistar memiliki ketelitian pengukuran setengah dari skala terkecilnya yaitu 0,5 mm.

2. Jangka Sorong

Jangka sorong terdiri dari dua bagian, yaitu rahang tetap dan geser (sorong). Skala panjang yang terdapat pada rahang tetap adalah skala utama, sedangkan skala pendek pada rahang geser adalah skala nonius atau vernier, diambil dari nama penemunya. Skala utama memiliki skala dalam cm dan mm. Sedangkan skala nonius memiliki panjang 9 mm dan dibagi 10 skala. Sehingga beda satu skala nonius dengan satu skala pada skala utama adalah 0,1 mm atau 0,01 cm. Jadi, skala terkecil pada jangka sorong adalah 0,1 mm atau 0,01 cm.

Pengukuran Massa

Dalam praktikum ini ada 2 alat ukur massa yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Neraca O'haus

Fungsi neraca Ohaus adalah untuk mengukur massa benda atau logam dalam praktek laboratorium. Kapasitas beban yang ditimbang dengan menggunakan neraca ini adalah 311 gram. Batas ketelitian neraca Ohauss yaitu 0,1 gram.

2. Neraca Analitik

Timbangan atau neraca analitik adalah alat laboratorium yang digunakan untuk menimbang sejumlah bahan dalam ukuran miligram (sangat kecil bobotnya). Sebagai alat ukur masa, fungsi timbangan analitik (analytical balances) ini sangat membantu peneliti dalam mendapatkan sejumlah kecil takaran bahan kimia.

Pengukuran Suhu

Dalam praktikum ini alat ukur suhu yang digunakan adalah termometer raksa. Termometer air raksa dalam gelas adalah termometer yang dibuat dari air raksa yang ditempatkan pada suatu tabung kaca. Tanda yang dikalibrasi pada tabung membuat temperatur dapat dibaca sesuai panjang air raksa di dalam gelas, bervariasi sesuai suhu. Untuk meningkatkan ketelitian, biasanya ada bohlam air raksa pada ujung termometer yang berisi sebagian besar air raksa; pemuaian dan penyempitan volume (Redaksian, 2015).

Silahkan di downloand laporannya, dibawah ini.

Download full-text PDF

Penutup

Sekian artikel yang membahas tentang Alat-alat Pengukuran Praktikum Fisika Dasar, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan

Friday, 8 May 2020

Modulus Young (Laporan Fisika Dasar)

Latar Belakang

Di Indonesia banyak kita jumpai jembatan. Baik jembatan kayu, besi, atau dari bahan yang lainnya. Saat jembatan tersebut dilewati banyak manusia, kendaraan, atau beban yang berada di tengah-tengah jembatan, maka jembatan akan melengkung meskipun sedikit.

modulus

Dan ketika jembatan tidak ada yang melewati, maka akan kembali ke semula. Peristiwa tersebut berhubungan dengan modulus young adalah melengkungnya sebuah penggaris jika di tengah-tengah penggaris diberikan beban. Dimana dalam peristiwa diatas kita dapat menghitung atau menentukan elastisitas dari suatu bahan.

Menentukan Modulus Young dari suatu bahan tidak terlepas dari sifat elastisitas suatu benda dan batas elastisnya. Elastisitas adalah sifat dimana benda kembali pada ukuran dan bentuk awalnya ketika gaya-gaya yang mengubah bentuknya dihilangkan.

Batas elastis suatu benda adalah tegangan terkecil yang akan menghasilkan gangguan permanen pada benda. Ketika diberikan tegangan melebihi batas ini, benda tidak akan kembali persis seperti keaadaan awalnya setelah tegangan tersebut dihilangkan.

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan praktikum ini dilaksanakan adalah sebagai berikut :

1. Menentukan sifat elastisitas bahan di bawah pengaruh tarikan.

2. Menentukan modulus young bahan.

Hukum Hooke

Modulus Young merupakan besaran yang menyatakan sifat elastis suatu bahan tertentu dan bahan menunjukkan langsung seberapa jauh sebuah batang atau kabel atau pegas yang bersangkutan mengalami perubahan akibat pengaruh beban f = kx. Konstanta k atau perbandingan gaya terhadap perpanjangan disebaut konstanta gaya atau kekuatan pegas. Bilangannya sama dengan gaya yang diperlukan untuk menghasilkan perpanjangan satuan ( Zemansky, 1982).

Menurut Hooke, regangan sebanding dengan tegangannya,dimana yang dimaksud dengan regangan adalah presentasi perubahan dimensi. Tegangan adalah gaya-gaya yang merenggang persatuan luas pemampang yang dikenainya ( Soedojo, 2004 ).

Elastisitas

Elastisitas adalah kemampuan suatu bahan untuk kembali ke bentuk semula setelah gaya yang diberikan pada benda dihentikan. Dengan kata lain, semakin besar gaya tarik semakin besar pertambahan panjang pegas. Perbandingan besar gaya tarik (F) terhadap pertambahan panjang pegas yang bernilai konstan. Sesuai dengan rumus yang dikemukakan oleh Robert Hooke dan dikenal dengan hukum hooke,yaitu sebagai berikut : F∕∆x=k,f=∆x=k ( Anonim,2012 ).

Jika luas penampang adalah A, maka tegangan tarik adalah F/A. Dimana panjang mula-mula adalah  L_0, akibat gaya yang bekerja F sehingga batang tersebut bertambah panjang adalah L. Maka regangan tariknya adalah  ∆L/L_0.

Pada elastis hubungan antara tegangan dan regangan, bentuk grafiknya linier serta didaerah ini berlaku hukum Hooke Modulus Young merupakan perbandingan antara tegangan dan regangan (Jemi, 2018). Dalam pelaksanaan praktikum ini ada bahan dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut:

1.  Kawat

Kawat adalah benda yang terbuat dari logam yang panjang dan lentur. Kawat merupakan benda penghantar listrik. Kawat mempunyai banyak bentuk dan ukuran. Kawat yang digunakan untuk menghantar listrik biasa dibungkus dengan kulit yang terbuat dari karet yang biasa disebut kabel.

2. Statif

Statif adalah alat yang berfungsi untuk menempatkan penjepit buret atau penyangga buret.

3. Mikrometer Sekrup

Alat ukur mikrometer sekrup ialah salah satu alat ukur yang bisa digunakan untuk mengukur panjang suatu benda dan mengukur tebal sebuah benda serta mengukur diameter luar sebuah benda dengan tingkat ketelitian mencapai 0.01.

4. Mistar atau Penggaris

Mistar adalah Alat ukur ini memiliki skala terkecil 1 mm atau 0,1 cm dan memiliki ketelitian pengukuran setengah dari skala terkecilnya yaitu 0,5 mm.

5. Timbangan Analitik

Timbangan atau neraca analitik adalah alat laboratorium yang digunakan untuk menimbang sejumlah bahan dalam ukuran miligram (sangat kecil bobotnya).

Silahkan di download laporannya, dibawah ini.

Download full-text PDF

Penutup

Sekian artikel yang membahas tentang Modulus Young (Laporan Fisika Dasar), semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan

Monday, 4 May 2020

Kadar Air dan Berat Jenis Kayu Sengon (Laporan Fisika Dasar)

kadar

Latar Belakang

Sifat kayu dapat berubah-ubah karena pengaruh lingkungannya, kayu mudah menyerap air karena kayu terdiri dari molekul-molekul selulosa yang tersusun dari ikatan OH (hidroksida) yang mampu mengikat air, dalam kayu molekul selulosa membentuk makromolekul yang disebut mikrofibril.

Pengenalan sifat kayu dapat dilakukan dengan memperhatikan sifat fisika dan anatominya. Pengenalan atas sifat-sifat fisik dan anatomi akan sangat membantu dalam menentukan jenis-jenis kayu untuk tujuan penggunaan tertentu.

Kebanyakan sifat mekanika kayu sangat berhubungan dengan berat jenis, kerapatan, dan kadar air. Perhitungan berat jenis bahan banyak disederhanakan dalam sistem metrik karena 1 cm kubik air beratnya tepat 1 gram. Jadi berat jenis dapat dihitung secara langsung dengan membagi berat dalam gram dengan volume dalam sentimeter kubik. Berat jenis tidak mempunyai satuan karena berat jenis adalah nilai relatif. Berat jenis kayu dapat ditentukan pada berbagai kondisi kadar air kayu berupa basah, segar, kering air, dan kering tanur.

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum tentang berat jenis dan kadar air ini adalah sebagai berikut:

  1. Memahami cara pengukuran dan menentukan besarnya berat jenis dan kerapatan contoh uji pada volume basah/maksimum, volume kering udara, dan volume kering tanur.
  2. Mampu menjelaskan perbedaan berat jenis dan kerapatan.

Deskripsi Pohon Sengon

Bagian sengon yang terpenting adalah kayu mempunyai nilai ekonomi tinggi. Pohon sengon dapat mencapai ketinggian sekitar 30-45 meter dengan diameter batang sekitar 70-80 cm. Berat jenis kayu rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV-V. Bentuk batang bulat dan tidak berbanir. Kulit luarnya berwarna putih atau kelabu, tidak beralur, dan tidak mengelupas.

Kayu sengon digunakan untuk tiang bangunan rumah, papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pangar, tangkai, dan kotak korek api, pulp, kertas, dan lain-lainnya. Sengon memiliki akar tungang yang cukup kuat menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun, dan tidak menonjol kepermukaan tanah. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur (Forester UNTAD, 2014).

Penutup

Silahkan download laporannya dibawah ini.

Download full-text PDF

Sekian artikel yang membahas tentang Kadar Air Kayu Sengon (Laporan Fisika Dasar), semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan