Friday, 22 May 2020

Apa Sih Papan Semen?

Ketika kita berpikir sesaat, bahwa semen ini berbau tentang kontruksi bangunan pada umumnya. Dimana semen ini mempunyai kemampuan untuk merekatkan batu yang satu dengan batu yang lainnya, sehingga menghasilkan kontruksi bagunan tertentu.

apa

Semen ini juga dapat digunakan untuk bahan perekat pada kayu itu sendiri. Dimana produk papan semen itu dapat diartikan papan anorganik untuk menseplai industri perumahan rakyat (Perumnas). Perekat semen ini berkategori sebagai perekat anorganik.

Adapun tiga jenis perekat anorganik yaitu, calcined gymsum, porland cement, dan magnesite atau magnesium oxy-sulphate cement.

Menurut Kasmudjo (2010) menyatakan bahwa semen sebagai perekat harus dicampur dengan air dalam pemakaiannya. Dimana akan memberikan reaksi hidratasi (setting dan hardening) yang menyebabkan naiknya suhu atau panas.

Setting itu merupakan pengerasan permulaan yang terjadi dalam beberapa jam, sedangkan hardening adalah perkembangan kekuatan yang terjadi secara perlahan-lahan setelah setting.

Pada dasarnya semen yang dicampr dengan kayu akan mengakibatkan kenaikan suhu dan pengerasan walaupun tidak setinggi jika berupa semen saja (Kasmudjo, 2010).

Berdasarkan hal itu, maka hasilnya dinamai dengan papan semen. Menurut Kasmudjo (2010) menyatakan bahwa papan semen merupakan papan yang dibuat dari serpih atau wol yang direkat dengan perekat anorganik yaitu semen.

Papan semen ini memerlukan bahan baku tertentu. Bahan bakunya mempunyai ciri-ciri yaitu mempunyai berat jenis tidak terlalu tinggi dan kayu bulat kecil atau dapat juga limbah penggergajian.

Menurut Kasmudjo (2010) bahan baku untuk pembuatan papan semen harus memperhatikan sifat kimia dan fisiknya. Dimana sifat kimianya yang perlu diperhatikan ialah kadar ekstraktifnya (kadar gula, pati, quinon, phenol, dan lain sebagainya). Sedangkan untuk sifat fisiknya yang perlu diperhatikan ialah berat jenis dan kadar airnya, dimana pada umumnya berat jenis kayu yang lebih rendah mempunyai hasil yang lebih baik untuk papan semen dan untuk kadar airnya 13-20% untuk ukuran serpih atau wol.

Hasil produk papan semen yang berkualitas dapat dipengaruhi suhu hidratasinya. Menurut Kasmudjo (2010) menyatakan apabila suhu maksimal umumnya lebih besar dari 60 C berarti baik, jika antara 55-60 C berarti sedang dan jika di bawah 55 C berart kurang.

Penutup

Papan semen ini memerlukan bahan baku tertentu. Bahan bakunya mempunyai ciri-ciri yaitu mempunyai berat jenis tidak terlalu tinggi dan kayu bulat kecil atau dapat juga limbah penggergajian.

Sekian artikel yang membahas tentang Apa Sih Papan Semen? semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Sumber :

Kasmudjo. 2010. Teknologi Hasil Hutan. Cakrawala Media. Yogyakarta.

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan

6 Proses Kerja Analisis Kromatografi Gas

Kromatogarif gas adalah alat yang digunakan untuk memisahkan komponen-komponen yang dapat menguap dan hasil pemisahan dapat dilihat berupa kromatogram. Pada umunya alat ini digunakan untuk mengecek senyawa apa saja yang dimiliki oleh suatu cairan atau bentuk apa pun.

proses

Dalam dunia kehutanan, umumnya bahan senyawa untuk pengecekannya dengan kromatografi ini ialah minyak atsiri. Dimana minyak atsiri mempunyai kekayaan akan senyawa-senyawanya. Hal ini dibuktikan dengan pada satu produk minyak atsiri mempunyai golongan minyak atsiri yang terdiri dari beberapa senyawa-senyawa.

Kromatografi gas ini pada umumnya dinamakan dengan GC-MS. Dimana kepanjangan nya ialah Gass Chromatography - Mass Spectrometry.

Pada alat kromatografi gas ini mempunyai spektroskopi massa yang merupakan metode analisa dimana sampel yang dianalisa akan diubah menjadi ion-ion gasnya dan massa dari ion-ion tersebut dapat diukur berdasarkan deteksi berupa spektrum massa (Muhamad, 2014).

Pada pemisahan senyawa dalam GC (Gas Chromatography) terjadi di dalam kolom dengan melibatkan dua fase, yaitu fase diam dan gerak.

Pada fase diam merupakan zat yang berada di dalam kolom sedangkan fase gerak adalah gas pembawa (helium atau hidrogen). Dimana teknik pemisahan mengakibatkan solut-solut yang mudah menguap dan stabil terhadap pemanasan akan bermigrasi melalui kolom yang merupakan fase diam dengan kecepatan yang tergantung pada fase rasio distribusinya (Muhamad, 2014).

Untuk pengolahan analisis kromatografi gas ini terdapat 6 prosesnya, sebagai berikut (Sutar et al, 2013).

1. Tabung Gas

Proses ini berfungsi sebagai pensuplai gas yang digunakan dalam analisis. Dimana gas digunakan sebagai pembawa bisa berupa hidrogen, helium maupun nitrogen.

2. Sistem Injeksi Sampel

Proses yang digunakan untuk mendapatkan efisiensi, sampel dimasukkan dalam jumlah sedikit pada waktu yang tepat. Dimana ciri-ciri sampel tidak boleh pekat, sehingga sebelumnya harus diencerkan.

Terdapat dua injeksi sampel, yaitu metode splitless dan metode split. Dimana metode splitless ini merupakan semua sampel yang diuapkan masuk ke dalam kolom dikromatografi, sedangkan metode split adalah sampel yang dibuang setelah diuapkan.

3. Oven

Proses yang digunakan untuk memanaskan kolom pada temperatur tertentu sehingga memperoleh proses pemisahan komponen sampel.

4. Kolom

Proses ini digunakan untuk membuat suhu rendah memmberikan pemisahan yang lebih baik, namun waktu retensinya menjadi lebih lama dua kali lipat untuk setiap penurunan 30 C.

5. Detektor

Proses ini digunakan untuk memberikan suhu tinggi supaya mencegah kondensasi cuplikan pedekteksi adanya komponen yang keluar dari kolom.

6. Data Acquisition System

Proses ini berfungsi sebagai control automatic calibaration dan perangkat gabungan dari software dan hardware.

Penutup

Proses kerja analisis kromatografi gas ialah tabung gas, sistem injeksi sampel, oven, kolom, dektektor, dan data acquisition system.

Sekian artikel yang membahas tentang 6 Proses Kerja Analisis Kromatografi Gas, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Sumber :

Muhamad, Z. K. 2014. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Daun Sintok (Cinnamonum sintoc Blume) Terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa serta Analisa Komposisi Senyawa Fraksi Aktif dengan GC-MS. [Skripsi]. Fakultas Farmasi. Universitas Padjadjaran.

Sutar et al. 2013. Laporan Praktikum Analisis Instrumen GC-MS. Jurusan Farmasi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan

5 Faktor Mempengaruhi Pertumbuhan Jamur Pelapuk Kayu

Kayu mengandung serat organik yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, serat dan lignin. Kayu dapat terjadi pelapukan kayu yang diakibatkan oleh berbagai macam jamur.

faktor

Salah satu jamur pelapuk kayu yaitu, jamur dari kelas Basidiomycetes yang merupakan organisme dengan kerja efisien dan efektif dalam proses degradasi lignin. Dimana proses degradasi lignin ini dimulai saat jamur pelapuk putih menembus dan membentuk koloni dalam sel kayu, kemudian mengeluarkan enzim yang berdifusi melalui lumen dan dinding sel.

Menurut Irma (2017) menyatakan bahwa jamur tumbuh pada kayu yang berada di tempat lembab dan kandungan senyawa kimia menjadi sumber makanannya. Jamur pelapuk kayu ini menyerang lignin pada kayu yang diuraikan secara sempurna menjadi air dan karbon dioksida. Oleh sebab itu kayu menjadi lapuk yang mengakibatkan ketahanan kayu semakin lama dapat berkurang.

Ketika terjadi degradasi lignin ini, akan mengakibatkan hubungan dalam aktivitas enzim ligninolitik yang dihasilkan oleh jamur palapuk putih yaitu lignin peroksidase (LiP), manganese peroksidase (MnP), dan Lakase.

Proses degradasi lignin ini dimulai saat jamur pelapuk kayu menembus dan membentuk koloni dalam sel kayu, kemudian mengeluarkan enzim yang berdifusi melalui lumen dan dinding sel.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur pelapuk kayu, sebagai berikut  (Supriyanto, 2009).

1. Suhu

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur melalui suhu ekstrim, dimana pada suhu ini merupakan suhu minimum dan maksimum. Berdasarkan pada kisaran suhu, jamur dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu psikrofil, mesofil, dan termofil.

2. Nilai pH

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur melalui ketersediaan ion logam tertentu, permeabilitas mambran sel yang berhubungan dengan pertukaran ion, produksi karbondioksida dan asam organik.

3. Aerasi

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur melalui dua komponen penting dalam udara yaitu oksingen dan karbondioksida. Dimana oksingen ini adalah unsur dalam respirasi sel. Sedangkan karbondioksida adalah dapat berakumulasi sebagai hasil dari respirasi oleh jamur atau respirasi organisme lainnya.

4. Cahaya

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur melalui kebutuhan cahaya itu sendiri. Dimana jamur memerlukan cahaya efektif dengan panjang gelombang 435-470 nano meter. Akan tetapi, untuk kebanyakan jamur kebutuhan cahaya ini secara cepat belum diketahui yaitu hanya sejumlah kecil panjang gelombang tertentu diperlukan, tetapi cahaya putih diperlukan dalam jumlah relatif besar.

5. Kelembapan

Faktro yang mempengaruhi pertumbuhan jamur melalui kebutuhan akan lembabnya kondisi itu. Jamur memerlukan kelembapan relatif besar dengan nilai 95-100%.

Penutup

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur pelapuk kayu ialah suhu, nilai pH, aerasi, cahaya, dan kelembapan.

Sekian artikel yang membahas tentang 5 Faktor Mempengaruhi Pertumbuhan Jamur Pelapuk Kayu, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Sumber :

Irma, T. A. 2017. Aktivitas Antijamur Minyak Atsiri Daun Ujung Atap (Baeckea frustencens) terhadap Jamur Perusak Kayu Pleurotus sp [Skripsi]. Fakulitas Pertanian. Unversitas Palangka Raya.

Supriyanto, A. 2009. Manfaat Jamur Pelapuk Putih Phanerochaete chrysosporium L1 dan Pleurotus EB9 untuk Biobleaching Pulp Kertas Kardus Bekas [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan

Thursday, 21 May 2020

2 Metode Deteksi Deteriorasi Kayu

Deteriorasi kayu merupakan salah satu bentuk mekanime penurunan sifat yang berhubungan dengan ketahanan kayu menjadi menurun yang secara signifikan banyak dijumpai pada struktur atau bagunan yang memanfaatkan kayu (Muin et al. 2019). Dimana pengamatan terhadap bangunan-bangunan dari kayu yang mengalami kerusakan dapat memperjelas bahwa kerusakan atau penurunan ketahanan kayu dalam struktur bangunan dapat disebabkan oleh organisme perusak.

metode

Ketika organisme atau perusak kayu dibiarakn berkembangbiak pada kayu itu, maka akan menyebabkan kerusakan kayu atau deteriorasi. Sehingga diperlukan metode untuk mendeteksi deteriorasi kayu secara akurat dan lebih dini sangat diperlukan untuk memperpanjang umur pakai kayu dan menjamin keselamatan umum yang berhubungan dengan struktur bangunan kayu bersangkutan.

Pada saat ini, ada dua metode yang biasanya digunakan dalam mendekteksi deteriorasi kayu, sebagai berikut (Muin et al. 2019).

1. Metode Konvensional

Metode ini bertujuan untuk mendekteksi deteriorasi kayu yang dilakukan terhadap kerusakan permukaan maupun bagian dalam kayu.

Pada metode mendeteksi deteriorasi bagian luar kayu mudah dideteksi tergantung pada besar kecilnya kerusakan dan metode inspeksi yang dilakukan. Teknik yang digunakan dalam metode ini ialah visual inspection dan probing. Visual inspection ini bertujuan untuk mengetahui lokasi terjadinya kerusakan pada struktur bangunan kayu. Sedangkan probing atau penyelidikan bertujuan untuk mendeteksi kerusakan di bawah permukaan kayu.

Pada metode mendeteksi deteriorasi bagian dalam kayu terdiri dari sounding, drilling dan coring. Sounding ini merupakan teknik melalui membunyikan kayu dengan mengetuknya menggunakan palu atau alat tertentu untuk mendeteksi bagian dalam kayu. Sedangkan drilling dan coring merupakan teknik yang bertujuan untuk mendeteksi deteriorasi internal khususnya pada bangunan, seperti jembatan.

2. Metode Alternatif

Metode ini terbagi atas, shigometer, X-rays and tomography scanners, dan stress wave propagation method.

Pada shigometer merupakan suatu alat yang menggunakan getaran-getaran gelombang untuk mengukur perubahan dalam konduktivitas elektrik kayu akibat adanya kerusakan. Shigometer ini cukup baik untuk mendeteksi kerusakan apabila digunakan pada kondisi yang tepat dan oleh orang yang berpengalamn dalam mengoperasikannya dan menginterpretasi hasilnya.

Pada X-rays and tomography scanners bertujuan untuk mendeteksi adanya rongga-rongga pada bagian dalam kayu yang digunakan ke seluruh bagian kayu, adanya mata kayu atau kerusakan lainnya akan merubah kerapatan gelombang radiograph yang direkam.

Dan stress wave propagation method bertujuan untuk mendeteksi kerusakan internal dengan mengalirkan suatu gelombang tekanan ke dalam struktur kayu dan mengukur gelombang tekanan dan waktu yang diperlukan.

Penutup

Metode deteksi deteriorasi atau kerusakan kayu ialah metode konvensional dan alternatif.

Sekian artikel yang membahas tentang 2 Metode Deteksi Deteriorasi Kayu, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Sumber :

Muin et al. 2019. Deteriorasi dan Perbaikan Sifat Kayu. Universitas Hasanudin. Makassar.

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan

5 Cara Memperbaiki Sifat Kekuatan Kayu

Masing-masing kayu mempunyai ciri-ciri yang berbeda-beda baik itu sifat fisik, kimia, dan mekaniknya. Pada tiga sifat ini terbagi atas, berat jenis, kembang susut, kadar air, dan kekuatan mekanik.

cara

Menurut Muin et al (2019) menyatakan bahwa kayu merupakan komponen polimer tiga dimensi dengan penyusun utama selulosa, hemiselulosa dan lignin. Ada beberapa perubahan kimia dalam polimer dinding sel kayu mengakibatkan perubahan sifat fisik dan mekanik kayu. Dimana sifat-sifat ini dapat bervariasi mulai dari yang sederhana berupa perubahan warna kayu sampai pada perubahan besar dalam hal-hal sifa modulus, kemampuan menahan beban maksimum, dan lain sebagainya.

Kekuatan kayu mempunyai fungsi sebagai penahan beban terhadap kayu itu, untuk mempertahankan atau memperbaiki sifat kekuatan kayu, ada beberapa cara yang dapat dipakai pada umumnya, sebagai berikut (Muin et al, 2019).

1. Pengeringan Kayu

Cara ini berbicara tentang kadar air kayu. Jika kadar air kayu berkurang maka kekuatan kayu akan meningkat. Hal ini terjadi akibat adanya perubahan dalam dinding sel, yaitu menjadi kompak. Sehingga dapat dikatakan bahwa peningkatan kekuatan kayu dapat melalui dengan mengurangi kadar air kayu melalui proses pengeringan.

2. Modifikasi Kimia Kayu

Cara ini mempunyai reaksi esterifikasi yang menggunakan pelarut asetat anhidrid dikenal sebagai proses asetilasi, akibat dalam proses tersebut menghasilkan asam asetat sebagai produk sampingnya. Untuk meningkatkan kekuatan kayu melalui cara ini membutuhkan reaksi dengan fosforamid yang dihasilkan secara in situ melalui reaksi fosfor pentoksida dengan amina (butylamine) tahan terhadap degradasi jamur dan panas.

3. Pemadatan atau Densifikasi Kayu

Cara ini bertujuan untuk meningkatkan kekuatan kayu dan keawetan kayu berkerapatan rendah dengan mengempa papan kayu menjadi lebih padat. Dimana pada kondisi lebih padat daripada sebelumnya, maka kekuatan kayu meningkat dengan sendirinya. Pada umumya cara ini mempunyai bahan pedamping atau pembantu untuk memadatkan kayu yaitu bahan perekat, baik perekat organik maupun anorganik.

4. Kayu Laminasi

Cara ini mempunyai sistem kerja dengan melekatkan kembali dengan menghilangkan cacat kayu atau mengatur posisi secara tepat maka sifat mekanisnya meningkat, yaitu kekuatan kayu itu sendiri.

5. Persiapan Permukaan Kayu dengan Teknologi Radiasi

Cara ini cukup berbahaya bagi lingkungan sekitar, karena mengunakan teknologi nuklir yang diaplikasikan pada industri polimer yaitu mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi, dengan bantuan sinar radiasi sebagai sumber energi.

Penutup

Cara memperbaiki sifat kekuatan kayu adalah pengeringan, modifikasi, pemadatan atau densifikasi, kayu laminasi, dan persiapan permukaan kayu dengan teknologi radiasi.

Sekian artikel yang membahas tentang 5 Cara Memperbaiki Sifat Kekuatan Kayu, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Sumber :

Muin et al. 2019. Deteriorasi dan Perbaikan Sifat Kayu. Universitas Hasanudin. Makassar.

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan

Pengelolaan dan Pemanfaatan Kawasan Taman Nasional Sebangau

Taman nasional sebangau atau sering disingkat dengan TNS merupakan salah satu kategori taman nasional yang mempunyai nilai ekowisata. Dimana ekowsiata ini diartikan sebagai kegiatan yang bertujuan untuk mengkonsevasi keanekaragaman hayati yang terdapat pada taman nasional tersebut sekaligus menjadikan mata pencarian warga sekitar itu sendiri.

pengelolaan

Dalam pengelolaan dan pemanfaatannya diserahkan pada warga sekitar dengan lindungan dinas parawisata dan kebudayaan. Adapun kegiatan yang dapat dilakukan warga sekitar terhadap Taman Nasional Sebagau, sebagai berikut.

Konservasi Ekosistem

Kawasan TN Sebangau merupakan kawasan konservasi ekosistem gambut yang salah satu ekosistem yang  kondisinya masih baik dibandingkan dengan daerah sekitarnya dan mempunyai peranan penting sebangai gudang penyimpanan karbon dan pengatur tata air di kabupaten Katingan, Pulang Pisau, dan kota Palangka Raya.

Oleh karena itu kestabilan ekosistem merupakan salah satu faktor penentu kulaitas hidup manusia, baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun global. Didalam kawasan TN Sebangau terdapat kenanekaragaman flora fauna khas. Namun demikian hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang rentan, artinya hutan di kawasan TN Sebangau sangat mudah rusak dan sangat sulit dikembalikan lagi ke kondisi awalnya.

Konservasi Keanekaragaman Hayati

Menurut Pusat Penelitian Biologi LIPI (2006) menyatakan bahwa ekosistem hutan rawa TN Sebangau mengandung keanekaragaman hayati jenis flora yang unik seperti pohon ramin, jelutung, balangeran, bintangur, dan menjalin. Umumnya jenis-jenis tumbuhan tersbut menempati tipe ekosistem hutan primer dan sekunder.

Komunitas hutan primer adalah hutan primer bekas tebangan, sehingga hutan TN Sebangau telah mengalami kerusakan namun sebagian hutannya masih elatif baik, dimana tegakan jenis tumbuhan primernya masih terlihat rapat. Sedangkan, komunitas hutan sekunder merupakan komunitas yang telah terdegradasi dengan kuat akibat aktivitas manusia.

Dalam kawasan TN Sebangau mempunyai karekter unik antara lain hamparan hutan rawa gambut di sepanjang pinggiran sungai yang memiliki air sungai berwarna hitam. Kawasan TN Sebangau memiliki sub tipe hutan, yaitu : hutan riparian yang ditandai dengan tumbuhan rasau yang berada di pinggir Sungai Sebangau, hutan rawa campuran, hutan transisi, hutan tegakan rendah, hutan tegakan tinggi, hutan intrusi granit dan hutan kanopi rendah.

Ekowisata

Kawasan TN Sebangau mempunyai ekowisata alam untuk parawisata, ekowisata dikawasan ini memiliki banyak manfaatnya. Sejalan dengan upaya perintisan pengembangan ekowisata di kawasan ini oleh pihak WWF kalteng, maka dibentuk strategic planning oleh WWF Indonesia tahun 2003 dibentuk Working Group Community Empowerment untuk menjadikan konservasi hutan serta isinya bermanfaat bagi masyarakat.

Ada beberapa manfaat penting  ekowisata di kawasan TN Sebangau, yaitu :

  1. Meningkatkan pengembangan di bidang ekonomi
  2. Mengkonvervasi Warisan Alam dan Budaya
  3. Meningkatakan kualitas kehidupan masyarakat lokal
  4. Memberikan ilmu pengetahuan mengenai ekosistem di kawasan tersebut.
Sosial Ekonomi Masyarakat

Menurut Gunawan, 2014 menyatakan bahwa disekitar TN Sebangau terdapat delapan Kecamatan dan 48 Desa. Dari ke-8 Kecamatan tersbut mayoritas masyarakat bermatapencaharian utama dari perikanan dan pertanian berupa tanaman padi dan palawija.

Desa-desa yang merupakan daerah transmigrasi mayoritas merupakan petani. Suku penduduk yang mendiami desa-desa sebangau adalah Dayak, selain itu terdapat pula suku Banjar dan Jawa yang merupakan pendatang.

Di Kecamatan Sebangau, Katingan Hilir, Tasik Payawan, Kamipang, Katingan Hulu mayoritas etnis yang mendiami tersebt adalah suku Dayak sedangkan di kecamatan Bukit Batu, Sebangau Kuala dan Mendawai mayoritasnya adalah suku Jawa dan Banjar. Sosial ekonomi masayarakat sekitar TN Sebangau terdapat pada mata pencaharian antara lain : Pertanian, perkebuanan, perikanan, perdangangan dan peternakan.

Pemanfaatan Lainnya yang Dapat Diusulkan

Adapun pemanfaatan laiinya yang dapat diusulkan dalam kawasan TN Sebangau adalah sebagai berikut :

  1. Pemantauan Hotspot dan Kejadian Kebakaran di Kawasan TN Sebangau.
  2. Kegiatan Rehabilitas di Kawasan TN Sebangau.
  3. Kegiatan Pengamanan dan Perlindungan Hutan di TN Sebangau.
  4. Peningkatan Populasi Terancam Punah.
Penutup

Dari beberapa kegiatan masyarakat atau warga sekitar itu dalam mengelolah dan memanfaatkan kawasan itu, bahwa Taman Nasional Sebangau mempunyai ekosistem keanekaragaman hayati yang khas dan unik yang dapat menjadikan kawasan ekowisata alam dan melindungi sumber air untuk wilayah sebangau untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.

Sekian artikel yang membahas tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Kawasan Taman Nasional Sebangau, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Sumber :

Gunawan, Adib. 2014. Buku Statistik Taman Nasional Sebangau. Kementerian Kehutanan. Balai Taman Nasional Sebangau.

Rizal, dkk. 2018. Panduan Praktikum Konservasi Sumberdaya Alam Hayati. UPR. Palangka Raya.

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan

Wednesday, 20 May 2020

Daya Tahan Alami Kayu

Kayu merupakan bagian atau salah satu produk alami yang menghasilkan proses pertumbuhan pohon dengan bahan polimer yang tersusun atas berbagai tipe sel dan jenis bahan kimia yang satu sama lain saling terhubung. Sehingga, kayu memiliki sifat anatomi, fisik, kima dan mekanis yang juga khas secara alami yang terdapat pada pohon tersebut.

daya

Dimana kayu ini dapat dikatakan sebagai produk biopolimer yang terdiri dari sel-sel, mengandung persenyawaan kimia berupa selulosa, hemiselulosa, lignin, dan bahan ekstraktif. Kayu ini dalam pertumbuhannya membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan keterlibatan tempat dan lingkungan tumbuh, sehingga kayu dapat terurai kembali menjadi komponen-komponen pembentuknya.

Dari berbagai jenis kayu mempunyai ketahanan alaminya yang berbeda-beda terhadap faktor perusak. Dimana pada umumnya faktor perusak kayu akan memiliki dampak atau mengakibatkan deteriorasi dengan tingkat yang berbeda pada setiap bagian pohon itu sendiri. Sehingga terdapat serangan organisme perusak kayu pada suatu strujtur bangunan tidak berarti bahwa seluruh kayu yang ada dalam struktur tersebut akan diserang secara merata (Muin et al, 2019).

Hal itu disebabkan oleh adanya perbedaan ketahanan dari setiap potongan kayu yang menyusun struktur tersebut. Meskipun demikan, adanya serangan tersbut dapat mempengaruhi ketahanan struktur secara keseluruhan sehingga apapun tipe dan bentuk gangguan dari faktor perusak yang muncul seharusnya dihindari sedini mungkin (Muin et al, 2019).

Ketahanan alami terhadap perusak kayu, kayu memiliki atau dibedakan atas kekuatan dan keawetan. Dimana kekutan kayu merupakan daya tahan kayu terhadap beban yang mengenainya, sedangkan keawetan kayu merupakan daya tahan kayu terhadap organisme kayu.

Pada umumnya faktor-faktor perusak dapat dilihat sebagai komponen yang muncul sebagai hasil interaksi antara kayu dengan lingkungan penggunaanya, baik lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik. Dimana lingkungan biotik dapat mempengaruhi ketahanan kayu karena organisme perusak berinteraksi dengan kayu dalam bentuk menjadikannya sebagai bahan makanan atau tempat perlindungan. Sedangkan lingkungan abiotik mampu mempengaruhi ketahanan kayu karena adanya interaksi fisik, mekanis maupun kimia yang dapat merombak atau merubah komposisi kimia dan bentuk kayu (Muin et al, 2019).

Ketika organisme atau perusak kayu menyerang kayu itu sendiri, menyebabkan daya tahan kayu terhadap serangan terhadap keawetan kayu mampu mempengaruhi unsur penyusun kayu, sehingga menghilangkan berat kayu.

Untuk dapat mengendalikan dan mengoptimalisasi kayu dalam suatu lingkungan membutuhkan kemampuan memahami bentuk dan lingkungan interaksi kayu dengan faktor-faktor perusaknya. Hal ini sesuai dengan besarnya potensi jenis-jenis kayu dan tinggi kesesuaian lingkungan kita bagi keberadaan dan berkembangnya berbagai faktor perusak.

Penutup

Ketahanan alami terhadap perusak kayu, kayu memiliki atau dibedakan atas kekuatan dan keawetan. Dimana kekutan kayu merupakan daya tahan kayu terhadap beban yang mengenainya, sedangkan keawetan kayu merupakan daya tahan kayu terhadap organisme kayu.

Sekian artikel yang membahas tentang Daya Tahan Alami Kayu, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

"Salam Lestari"

Sumber :

Muin et al. 2019. Deteriorasi dan Perbaikan Sifat Kayu. Universitas Hasanudin. Makassar.

Author : Lamboris_Pane

Editor : panehutan